RSS

..: Teknologi Pendidikan Universitas Negeri Surabaya :..

Mastery Learning

Salah satu cara untuk mengadaptasi keberagaman pebelajar adalah dengan melakukan apa yang disebut dengan mastery learning yaitu sebuah sistem pembelajaran yang menekankan pada perolehan tujuan pembelajaran oleh semua siswa dengan memberikan kebebasan atau variasi waktu. Konsep dasar dari mastery learning adalah untuk membantu semua atau kebanyakan pebelajar menguasai keterampilan khusus yang level penguasaannya telah ditetapkan sebelumnya sebelum pebelajar melanjutkan ke keterampilan lanjutannya. Asumsi yang mendasarinya adalah bahwa kebanyakan pebelajar dapat belajar keterampilan khusus ini dalam kurikulum.
Permasalahan yang biasanya muncul dalam mastery learning ialah bagaimana cara memberikan waktu tambahan untuk pembelajaran. Dalam beberapa penelitian mastery learning, waktu tambahan untuk pembelajaran ini diberikan usai jam pelajaran yang ditetapkan dan ada juga alternatif yang dapat dipakai untuk menambah jam pelajaran selama waktu pembelajaran. Setiap siswa diwajibkan melewati fase mastery criterion yaitu tingkatan standart tertentu yang harus dimiliki oleh tiap siswa. Siswa yang gagal memenuhi standart tersebut nantinya akan diberikan corrective instruction yaitu pembelajaran yang diberikan kepada siswa yang gagal menguasai atau memenuhi tujuan pembelajaran; pembelajaran ini bertujuan meningkatkan penguasaan siswa pada tujuan pembelajaran tersebut sehingga ia dapat mencapai standart target yang telah ditetapkan.
Bentuk lain dari mastery learning adalah The Keller Plan dimana siswa dihadapkan pada beberapa tes yang dilakukan mengikuti pembelajaran yang telah diberikan sebelumnya. Setiap siswa yang gagal dalam tes diwajibkan untuk melanjutkan pembelajarannya dengan siswa lain yang telah lulus tes tersebut. Proses belajar ini dilakukan sampai akhirnya siswa yang gagal dapat lulus dalam tes berikutnya.
Menurut penelitian, The Keller Plan ternyata terbukti efektif dalam meningkatkan kemampuan akademik siswa, terutama siswa pada level perguruan tinggi; tidak menutup kemungkinan, The Keller Plan atau mastery learning juga dapat diterapkan pada lingkup sekolah dasar. Meskipun telah terbukti efektif tetapi tetap ada beberapa pertanyaan seputar waktu yang dibutuhkan dalam corrective instruction dalam mastery learning, karena dikhawatirkan waktu tersebut akan menyita waktu belajar yang sebenarnya sehingga materi pembelajaran tidak dapat terselesaikan dengan baik. Tidak dapat dipungkiri bahwa siswa yang mengikuti mastery learning mendapatkan nilai yang jauh lebih baik dalam tes daripada siswa yang tidak mengikuti mastery learning, tetapi tetap saja mereka membutukan waktu dua kali lebih lama dalam menyelesaikan pembelajaran.
Block dan Anderson dalam Slavin (1994), mengembangkan model mastery learning sebagai berikut:
  1. Melakukan orientasi ke penguasaan tugas belajar (mastery learning),
  2. Menyampaikan materi pelajaran,
  3. Memberikan kuis formatif (evaluasi yang dilakukan untuk menentukan apakah perlu dilakukan pembelajaran tambahan atau tidak),
  4. Memberikan ke pebelajar corrective instruction (untuk yang belum mencapai taraf penguasaan tertentu berdasarkan hasil kuis formatif yang sudah dilakukan) atau enrichment activities (untuk yang sudah mencapai taraf penguasaan yang ditetapkan),
  5. Memberikan kuis sumatif (tes akhir dari tujuan pembelajaran).
Hasil-hasil penelitian tentang mastery learning menunjukkan bahwa:
  1. Mastery learning dapat menjadi efektif bila ada waktu di luar waktu pembelajaran.
  2. Mastery learning dapat membantu guru untuk dapat mengetahui tujuan pembelajaran dengan lebih jelas, penilaian yang terus-menerus, dan modifikasi pembelajaran berdasarkan kemajuan belajar.
  3. Mastery learning akan menjadi lebih efektif bila diajarkan untuk level yang lebih tinggi dari keterampilan yang disajikan.
Individualized Instruction
Model pembelajaran ini adalah suatu model pembelajaran yang memberikan kesempatan kepada pebelajar untuk belajar pada level dan kecepatannya sendiri. Model-model individualized instruction antara lain:
  1. Tutoring
    Tutoring
    adalah bantuan yang diberikan oleh orang yang lebih terampil kepada yang kurang terampil untuk mencapai tujuan belajar. Tutoring ini bisa dilakukan diantara sesama atau dengan yang lebih tua. Tutor yang sebaya biasa disebut sebagai peer tutoring, sedangkan tutor yang lebih tua disebut cross age tutoring atau adult tutoring. Dengan model semacam ini maka pembelajaran untuk memenuhi level serta kecepatan belajar dapat dilakukan. Temuan penelitian tentang tutoring menunjukkan bahwa baik tutor maupun tutee mendapatkan hasil belajar yang lebih baik, lebih khusus lagi bila bentuknya adalah adult tutoring.
  2. Programmed Instruction
    Programmed Instruction
    mengacu pada metode pembelajaran dimana pebelajar belajar secara individual berdasarkan level dan kecepatannya. Pembelajaran ini meminimalkan bahkan meniadakan peran guru. Materi atau tugas belajar dipecah-pecah ke dalam unit yang kecil sehingga kesalahan yang mungkin muncul dalam setiap langkah sedapat mungkin dapat dihindari. Dalam perkembangan selanjutnya, programmed instruction ini berkembang dengan apa yang disebut dengan CAI.
  3. Computer Assisted Instruction (CAI)
    Computer Assisted Instruction (CAI)
    merupakan konsep pembelajaran dengan memanfaatkan teknologi komputer untuk mengefektifkan pembelajaran. Salah satu bentuk bantuan komputer yang nyata adalah dapat membuat program-program pembelajaran individual. Secara prinsip, programmed instruction dapat dibantu dengan komputer untuk mendapatkan hasil yang lebih baik.

Posted 25 Jun 2011 08:17 PM by admin in Kuliah Online


Download Attachment :
Makalah Isbd.doc
Kel 8 Manajemen Humas.doc
Ringkasan Harga Cd Motivasi_oktober.pdf
Scholarships2012.xls
Lkti Juara 3.doc

Recent Post

  • Hakikat Dan Perkembangan
    Hakikat Dan Perkembangan Motorik Anak Usia Dini - Motorik adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan gerakan-gerakan tubuh. Secara ...
  • Bagaimana Anak Usia
    Bagaimana Anak Usia Dini Belajar - Belajar dapat didefinisikan sebagai perubahan tingkah laku yang terjadi akibat ...
  • Jenis-jenis Asesmen Autentik
    Jenis-jenis Asesmen Autentik - Dalam rangka melaksanakan asesmen autentik yang baik, guru harus memahami ...
  • Asesmen Autentik dan
    Asesmen Autentik dan Belajar Autentik - Asesmen Autentik menicayakan proses belajar yang Autentik pula. Menurut Ormiston ...
  • Asesmen Autentik dan
    Asesmen Autentik dan Tuntutan Kurikulum 2013 - Asesmen autentik memiliki relevansi kuat terhadap pendekatan ilmiah dalam pembelajaran ...
  • Definsi dan Makna
    Definsi dan Makna Asesmen Autentik - Asesmen autentik adalah pengukuran yang bermakna secara signifikan atas hasil ...
  • Landasan Kurikulum 2013
    Landasan Kurikulum 2013 - Kurikulum 2013 dikembangkan berdasarkan ketentuan yuridis yang mewajibkan adanya pengembangan ...
  • Perkembangan Kognitif dan
    Perkembangan Kognitif dan Kemampuan Calistung (Baca-Tulis-Hitung) - NAEYC (National Association for the Education of Young Children) memberikan ...
  • Tahap Perkembangan Kognitif
    Tahap Perkembangan Kognitif anak usia dini (lahir-8 tahun) menurut Piaget - Tahap Sensorimotor (lahir-18 bulan) Pada tahap ini, bayi hanya bergantung ...
  • Tahapan kognitif Anak
    Tahapan kognitif Anak - Kognisi adalah proses dan produk yang terjadi dalam otak sehingga ...
  • Model Pembelajaran Reggio
    Model Pembelajaran Reggio Emilia - Model pembelajaran Reggio Emilia merupakan contoh model ...
  • Model Pembelajaran Montessori
    Model Pembelajaran Montessori - Model pembelajaran Montessori mengacu pada pembelajaran yang dikembangkan Maria Montessori, ...
  • Model pembelajaran Bermain
    Model pembelajaran Bermain Kreatif - Model pembelajaran bermain kreatif mulai dikembangkan pada tahun 1985 di ...
  • Model Pembelajaran High/scope
    Model Pembelajaran High/scope - Pendekatan high scope pada awalnya dikembangkan untuk anak anak luar ...
  • Hakikat Permainan Teka
    Hakikat Permainan Teka Teki - Pada hakikatnya permainan adalah suatu kegiatan yang dilaksanakan oleh individu ...




Checkpagerank.net