RSS

..: Teknologi Pendidikan Universitas Negeri Surabaya :..

Metode Pembelajaran: Strategi Pengorganisasian

Prof. Dr I Nyoman Sudana Degeng

Prof. Dr. I Nyoman Sudana Degeng, M.PdTugas sebagai pengembang teori yang diemban oleh ilmuwan pembelajaran amat rumit, karena ia berhadapan dengan sejumlah besar variabel yang berada di luar kontrolnya. Variabel-variabel ini diklasifikasi menjadi variabel kondisi pembelajaran. Isi pembelajaran, yang telah ditetapkan lebih dulu berdasarkan tujuan yang ingin dicapai; si belajar, yang membawa seperangkat sikap, kemampuan awal, serta karakteristik perseorangan lainnya ke dalam situasi pembelajaran; dan variabel kendala, seperti terbatasnya waktu, dana, serta media pembelajaran. Sering kali, variabel-variabel ini harus diterima sebagai barang jadi, dan selanjutnya dijadikan sebagai pijakan kerja. Peluang yang tinggal sekarang hanyalah bagaimana memanipulasi variabel metode pembelajaran (strategi pengorganisasian, strategi penyampaian, dan strategi pengelolaan pem-belajaran) untuk mencapai hasil pembelajaran yang diinginkan.

STRATEGI PENGORGANISASIAN PEMBELAJARAN

metode-pembelajaran-strategi-pengorganisasianStrategi mengorganisasi isi pembelajaran disebut oleh Reigeluth, Bunderson, dan Merrill (1977) sebagai structural strategy, yang mengacu kepada cara untuk membuat urutan (sequencing) dan mensintesis (synthesizing) fakta, konsep, prosedur, dan prinsip yang berkaitan. Sequencing mengacu kepada pembuatan urutan penyajian isi bidang studi, dan synthesizing mengacu kepada upaya untuk menunjukkan kepada si-belajar keterkaitan antara fakta, konsep, prosedur, atau prinsip yang terkandung dalam suatu bidang studi.

Pengorganisasian pembelajaran, secara khusus, merupakan fase yang amat penting dalam rancangan pembelajaran. Synthesizing akan membuat topik-topik dalam suatu bidang studi menjadi lebih bermakna bagi si belajar (Ausubel, 1968), yaitu dengan menunjukkan bagaimana topik-topik itu terkait dengan keseluruhan isi bidang studi. Kebermaknaan ini akan menyebabkan si-belajar memiliki retensi yang lebih baik dan lebih lama terhadap topik-topik yang dipelajari. Sequencing, atau penataan urutan, juga penting, karena amat diperlukan dalam pembuatan sintesis. Sintesis yang efektif hanya dapat dibuat bila isi telah ditata dengan cara tertentu, dan yang lebih penting, karena pada hakekatnya, semua isi bidang studi memiliki prasyarat belajar (Gagne, 1968, 1977a, 1977c).

Penggarapan strategi pengorganisasian pembelajaran tidak bisa dipisahkan dari karakteristik struktur isi bidang studi. Ini disebabkan oleh karena struktur isi bidang studi memiliki implikasi yang amat penting bagi upaya pembuatan urutan dan sintesis antar isi suatu bidang studi. Struktur bidang studi, seperti telah diuraikan pada bab sebelumnya, mengacu kepada keterkaitan di antara bagian-bagian yang tercakup dalam suatu bidang studi. Ia bisa berupa struktur belajar atau hirarkhi belajar, struktur prosedural, struktur konseptual, dan struktur teoritik (Reigeluth dan Stein, 1983).

Strategi Makro dan Mikro
Bagian ini akan menguraikan strategi pengorgani-sasian makro, yang diacukan untuk menata keseluruhan isi bidang studi; dan strategi pengorganisasian mikro, yang diacukan untuk menata sajian suatu konsep, atau prinsip, atau prosedur. Sebenarnya begitu banyak teori telah dikembangkan, baik untuk untuk strategi mikro maupun makro. Beberapa dari sejumlah teori yang berurusan dengan strategi mikro yang akan diuraikan dalam bagian ini adalah teori penataan urutan berdasarkan prasyarat belajar dari Gagne, model pembentukan konsep dari Taba, dan penguasaan konsep dari Bruner. Untuk strategi makro pengintegrasian sejumlah teori, seperti hirarkhi belajar dari Gagne, teori spiral dari Bruner, analisis tugas dari Gropper, teori skema dari Mayer, urutan subsumptive dari Ausubel, dan webteaching dari Norman; dilakukan oleh Reigeluth untuk mendapatkan suatu teori yang komprehensif yang disebut dengan teori elaborasi.

Strategi Mikro

Teori Gagne dan Briggs

Selama bertahun-tahun, Gagne dan Briggs telah mengembangkan berbagai teori pembelajaran yang preskriptif (Gagne, 1975; 1977a; 1977c; 1985; Gagne dan Briggs, 1979; Gagne dan Wager, 1981; Briggs, 1977a; 1977b; Martin dan Briggs, 1986). Teori pembelajaran yang dikembangkannya mempreskripsikan hal-hal yang berkaitan dengan (a) kapabilitas belajar, (b) peristiwa pembelajaran, dan (c) pengorganisasian pembelajaran (atau, dengan ungkapan aslinya, urutan pembelajaran).

Kapabilitas belajar

Untuk keperluan merancang pembelajaran, Gagne (1984, 1985) mengemukakan lima kategori kapabilitas yang dapat dipelajari oleh si-belajar, yaitu:

  1. Informasi verbal
  2. Ketrampilan intelektual, yang mencakup lima bagian kategori:
    1. Diskriminasi
    2. Konsep konkrit
    3. Konsep abstrak
    4. Kaidah
    5. Kaidah tingkat lebih tinggi
  3. Strategi kognitif
  4. Sikap
  5. Ketrampilan motorik

Kategorisasi kapabilitas ini penting sekali bagi pengembangan teori pembelajaran, karena setiap kategori menuntut penggunaan metode pembelajaran yang berbeda. Menurut Gagne, belajar telah terjadi apabila si-belajar telah memperoleh kapabilitas tertentu untuk melakukan sesuatu. Karakteristik setiap kapabilitas diuraikan berikut ini:

Informasi verbal. Si-belajar telah belajar informasi verbal apabila ia dapat mengingat kembali informasi itu. Indikator yang biasanya dipakai untuk menunjukkan kapabilitas ini bisa berupa: menyebutkan atau menuliskan informasi seperti nama, kalimat, alasan, argumen, proposisi, atau seperangkat proposisi yang terkait.

Ketrampilan intelektual. Kapabilitas dalam meng-gunakan simbul untuk mengorganisasi dan berinteraksi dengan lingkungan. Si-belajar akan menggunakan suatu ketrampilan intelektual apabila ia berinteraksi dengan lingkungan. Dua bentuk simbul, bahasa dan angka, dapat digunakan dalam berbagai kegiatan, seperti membaca,

menulis, membedakan, menggabungkan, mengklasifikasi, menjumlah, dst. Penggunaan simbul-simbul untuk mendiskriminasi, membentuk konsep dan kaidah, serta memecahkan masalah menghasilkan apa yang disebut dengan ketrampilan intelektual. Rincian dari ketrampilan intelektual adalah berikut ini:

Diskriminasi. Suatu kapabilitas untuk melakukan respon yang berbeda pada perangsang yang memiliki dimensi fisik yang berbeda. Si-belajar dikatakan mendiskriminasi apabila ia menyatakan apakah sesuatu itu sama atau berbeda dengan yang lain berdasarkan dimensi fisiknya, seperti: ukuran, warna, bentuk, atau suara. Ini merupakan ketrampilan intelektual yang paling dasar.

Konsep konkrit. Si-belajar telah belajar konsep konkrit apabila ia dapat mengidentifikasi contoh-contoh baru (atau, yang belum dipelajari) dari sekelompok objek atau kelompok-kelompok objek. Konsep konkrit diidentifikasi dengan menunjuk ke, atau menandai pada, contoh-contoh, dan biasanya tidak dapat diidentifikasi dengan definisi. "Bola", "roda", "segi-tiga", atau "kuda" adalah contoh-contoh dari konsep konkrit.

Konsep abstrak. Si-belajar telah belajar konsep abstrak apabila ia menggunakan suatu definisi untuk mengklasifikasi contoh-contoh yang tidak dipelajari sebelumnya. Konsep-konsep seperti: "keluarga" atau "orang-asing" adalah contoh konsep abstrak.

Kaidah. Si-belajar telah belajar kaidah apabila ia dapat menggunakan kaidah itu pada contoh-contoh yang sebelumnya tidak dipelajari. Kaidah adalah hubungan antara dua konsep atau lebih. Contoh: penggunaan "rumus Ohm", yang diungkapkan dengan V = IR, untuk memecahkan masalah-masalah rangkaian listrik.

Kaidah tingkat lebih tinggi (pemecahan masalah). Si-belajar telah mencapai kaidah tingkat tinggi apabila ia menggunakan dua kaidah atau lebih, yang sudah dipelajari sebelumnya, untuk memecahkan masalah-masalah baru. Kapabilitas ini melibatkan penguasaan sejumlah konsep dan kaidah yang kemudian harus diintegrasikan untuk memecahkan masalah. Di samping itu, oleh karena masalah itu adalah baru, maka si-belajar harus meneliti lebih dulu dan memilih kaidah-kaidah mana yang optimal digunakan.

Gagne (1984, 1985) menghipotesiskan bahwa ketrampilan-ketrampilan intelektual ini bersifat kontinum dari sederhana-ke kompleks, dan memiliki hubungan yang hirarkhis. Artinya, belajar ketrampilan intelektual yang lebih tinggi, memerlukan penguasaan ketrampilan intelektual yang lebih rendah. Atau, ketrampilan intelektual yang lebih rendah mejadi prasyarat bagi belajar ketrampilan yang lebih tinggi.


Posted 24 Feb 2012 11:39 PM by admin in Prof. Dr. I Nyoman Sudana Degeng, M.Pd


Download Attachment :
Jawa4.doc
Penggunaan Integral Tentu Pertemuan 3.pdf
Bahasa Indonesia 4.pdf
The Effectiveness Of Mobile Technology In A University E Learning Environment.pdf
Sap Matematika Bisnis8.doc

Recent Post

  • Hakikat Dan Perkembangan
    Hakikat Dan Perkembangan Motorik Anak Usia Dini - Motorik adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan gerakan-gerakan tubuh. Secara ...
  • Bagaimana Anak Usia
    Bagaimana Anak Usia Dini Belajar - Belajar dapat didefinisikan sebagai perubahan tingkah laku yang terjadi akibat ...
  • Jenis-jenis Asesmen Autentik
    Jenis-jenis Asesmen Autentik - Dalam rangka melaksanakan asesmen autentik yang baik, guru harus memahami ...
  • Asesmen Autentik dan
    Asesmen Autentik dan Belajar Autentik - Asesmen Autentik menicayakan proses belajar yang Autentik pula. Menurut Ormiston ...
  • Asesmen Autentik dan
    Asesmen Autentik dan Tuntutan Kurikulum 2013 - Asesmen autentik memiliki relevansi kuat terhadap pendekatan ilmiah dalam pembelajaran ...
  • Definsi dan Makna
    Definsi dan Makna Asesmen Autentik - Asesmen autentik adalah pengukuran yang bermakna secara signifikan atas hasil ...
  • Landasan Kurikulum 2013
    Landasan Kurikulum 2013 - Kurikulum 2013 dikembangkan berdasarkan ketentuan yuridis yang mewajibkan adanya pengembangan ...
  • Perkembangan Kognitif dan
    Perkembangan Kognitif dan Kemampuan Calistung (Baca-Tulis-Hitung) - NAEYC (National Association for the Education of Young Children) memberikan ...
  • Tahap Perkembangan Kognitif
    Tahap Perkembangan Kognitif anak usia dini (lahir-8 tahun) menurut Piaget - Tahap Sensorimotor (lahir-18 bulan) Pada tahap ini, bayi hanya bergantung ...
  • Tahapan kognitif Anak
    Tahapan kognitif Anak - Kognisi adalah proses dan produk yang terjadi dalam otak sehingga ...
  • Model Pembelajaran Reggio
    Model Pembelajaran Reggio Emilia - Model pembelajaran Reggio Emilia merupakan contoh model ...
  • Model Pembelajaran Montessori
    Model Pembelajaran Montessori - Model pembelajaran Montessori mengacu pada pembelajaran yang dikembangkan Maria Montessori, ...
  • Model pembelajaran Bermain
    Model pembelajaran Bermain Kreatif - Model pembelajaran bermain kreatif mulai dikembangkan pada tahun 1985 di ...
  • Model Pembelajaran High/scope
    Model Pembelajaran High/scope - Pendekatan high scope pada awalnya dikembangkan untuk anak anak luar ...
  • Hakikat Permainan Teka
    Hakikat Permainan Teka Teki - Pada hakikatnya permainan adalah suatu kegiatan yang dilaksanakan oleh individu ...




Checkpagerank.net