RSS

..: Teknologi Pendidikan Universitas Negeri Surabaya :..

Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Group Investigation Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Mata Pelajaran Produktif Multimedia Siswa Kelas X Smkn 1 Cerme Gresik

Muhammad Ali Rahmansyah1, Lamijan Hadi Susarno2
Teknologi Pendidikan Universitas Negeri Surabaya

Abstrak: Pembelajaran di SMKN 1 Cerme Gresik yang monoton khususnya kompetensi keahlian multimedia mata pelajaran produktif multimedia hanya akan berdampak pada kejenuhan siswa dalam menerima pelajaran. Model konvensional yang lama menjamur pada proses pembelajaran tidak pernah diubah oleh guru mata pelajaran sehingga hasil belajar yang diperoleh siswa menjadi merosot. Dalam mengatasi hal ini diperlukan suatu perubahan dalam kegiatan pembelajaran salah satunya adalah pembelajaran kooperatif tipe Group Investigation. Rumusan masalah untuk judul diatas adalah apakah ada perbedaan yang signifikan antara hasil belajar siswa dengan menggunakan model konvensional dan model kooperatif tipe Group Investigation pada mata pelajaran Produktif Multimedia di kelas X Multimedia SMKN 1 Cerme Gresik. Jenis penelitian ini merupakan penelitian true eksperimental jenis control group pre-test post-test. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas X SMKN 1 Cerme dengan kelas eksperimen adalah kelas X MM 1 dan kelas kontrol adalah kelas X MM 2 dengan sistem acak. Data yang diperoleh dalam penelitian ini adalah nilai pre test dan post test yang digunakan untuk mengetahui normalitas dan homogenitas sampel serta yang digunakan untuk mengetahui perbedaan sampel setelah diberi perlakuan. Teknik analisis data menggunakan uji-t atau dengan uji Chi Kuadrat dua sampel. Berdasarkan analisis dengan menggunakan uji Chi Kuadrat dua sampel diperoleh hasil ?2hitung = 6,708 lebih besar ?2tabel = 3,84. Hasil ini menunjukkan perbedaan yang signifikan antara hasil belajar siswa yang menggunakan model kooperatif tipe Group Investigation dibandingkan dengan model Konvensional pada mata pelajaran produktif multimedia di SMKN 1 Cerme Gresik. Sehingga disimpulkan bahwa hasil belajar siswa dengan menggunakan model kooperatif tipe Group Investigation lebih baik daripada hasil belajar siswa dengan menggunakan model Konvensional pada mata pelajaran produktif multimedia standar kompetensi merawat peralatan multimedia di SMKN 1 Cerme Gresik.
1. PENDAHULUAN
Pendidikan memegang peranan sangat penting dalam kehidupan karena pendidikan merupakan wahana untuk meningkatkan dan mengembangkan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM). Seiring dengan perkembangan dunia pendidikan yang semakin pesat menuntut lembaga pendidikan agar lebih dapat menyesuaikan dengan perkembangan ilmu pengetahuan (Isjoni, 2009: 7). Tahun 2006 lalu pemerintah Indonesia memberlakukan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yang disusun dan dikembangkan berdasarkan UU No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. KTSP pada dasarnya merupakan strategi pengembangan kurikulum untuk mewujudkan sekolah yang efektif, produktif, dan berprestasi.
Asumsi dasar belajar dalam implementasi KTSP adalah belajar sebagai proses individual, proses sosial, menyenangkan, tak pernah berhenti, dan membangun makna (Kontruktivisme). Dalam konteks pembelajaran, siswa dipandang sebagai individu yang aktif membangun pemahamannya sendiri dan pengetahuan dunia sekitarnya dengan mengalami sendiri dan merefleksikan pengalaman tersebut. Seiring dengan pengembangan filsafat konstruktivisme muncul pemikiran kritis dalam merenovasi pembelajaran yaitu PAIKEM (Pembelajaran Aktif, Inovatif, kreatif, Efektif, dan Menyenangkan).
Perubahan-perubahan dalam aktivitas pembelajaran dikelas sangat diperlukan sebagai upaya merenovasi pembelajaran yang berlandaskan pada pemikiran kritis PAIKEM. Perubahan-perubahan itu bisa berupa dari isi model pembelajaran yang dilakukan oleh guru, yang mana didalam model terdapat strategi pencapaian kompetensi siswa dengan pendekatan, metode, dan teknik. Dengan adanya perubahan perubahan tersebut dalam rangka mencapai tujuan pembelajaran maka sudah merupakan upaya untuk melaksanakan pembelajaran yang efektif.
Tercapainya suatu tujuan pembelajaran adalah suatu kebutuhan yang wajib dicapai dalam proses pembelajaran. Ragam tujuan pembelajaran ada dua yaitu instructional effects (tujuan belajar yang eksplisit diusahakan untuk dicapai dengan tindakan instruksional) dan nurturant effect (tujuan belajar sebagai hasil yang menyertai tujuan belajara istruksional). Keduanya mempunyai hubungan yang sangat erat, dimana bila salah satu muncul maka lainnya juga akan muncul. Maka dari itu setiap proses pembelajaran haruslah dipertimbangkan tujuan-tujuan pembelajaran yang hendak dicapai baik instructional effects maupun nurturant effect sehingga dapat dibuat pembelajaran yang efektif.
Hasil observasi yang dilakukan di SMKN 1 Cerme Gresik pada jurusan Multimedia mata pelajaran Produktif Multimedia kelas X terdapat problema yang membuat hasil belajar siswa kurang. Hasil yang didapat siswa merupakan hasil yang kurang dari rata-rata. Meskipun banyak yang bisa atau mampu mendeskripsikan materi yang ada dalam mata pelajaran Produktif Multimedia, namun siswa hanya menghafal saja tanpa adanya pemahaman yang bermakna. Hal ini diketahui setelah mengobservasi siswa yang mana siswa tidak mengerti apa yang telah dipelajarinya sebelumnya. Para siswa hanya mengerti ketika saat-saat tertentu saja, tetapi setelah pelajaran usai para siswa seakan-akan lupa apa yang telah dipelajarinya. Anggapan peserta didik sudah belajar jika mereka sudah hafal dengan hal-hal yang telah dipelajarinya (Suprijono, 2010: 3) masih melekat pada diri para siswa dan para guru.
Strategi pembelajaran adalah upaya merenovasi untuk membuat inovasi dalam proses pembelajaran menjadi terarah dan lebih baik. Menurut Seels & Richey (2000), strategi pembelajaran adalah spesifikasi untuk menyeleksi serta mengurutkan peristiwa belajar atau kegiatan pembelajaran dalam suatu mata pelajaran. (Warsita, 2008: 24). Dalam mencapai tujuan diperlukan suatu strategi pembelajaran yang digunakan untuk merangkai tahapan dalam proses pembelajaran agar dalam proses pembelajaran menjadi terarah. Menurut Suparman (2004), strategi pembelajaran berkenaan dengan pendekatan pembelajaran dalam mengelola kegiatan pembelajaran untuk menyampaikan materi atau isi pelajaran secara sistematis sehingga kemampuan yang diharapkan dapat dikuasai oleh peserta didik secara efektif dan efisien (Warsita, 2008: 25). Strategi pembelajaran meliputi pendekatan, model, metode, dan teknik secara spesifik.
Proses pembelajaran pada mata pelajaran Produktif Multimedia kelas X di SMKN 1 Cerme Gresik, pembelajaran yang dilakukan masih menggunakan model pembelajaran konvensional. Sebagai contoh metode yang digunakan dari model pembelajaran konvensional adalah metode diskusi kelas, namun pelaksanaan dari diskusi kelas tidak memperhatikan keadaan siswa. Pelaksanaan metode diskusi kelas hanya mencakup sekedar diskusi biasa antar kelompok maupun individu dengan menggunakan metode lain yaitu tanya jawab. Hal ini menyebabkan siswa yang kurang mampu berpartisipasi akan semakin mundur dalam akademik, karena siswa tidak bisa mengungkapkan hal-hal yang tidak dimengerti maupun untuk mengkonstruksi pengetahuannya.
Pada dasarnya, saat guru berupaya menggunakan strategi baru terhadap siswa, siswa akan mengalami ketidaknyamanan yang cukup mengganggu. Sebagaian besar guru tidak pernah mencoba strategi yang tidak biasa digunakan kecuali jika mereka mendapat dukungan. Sebagaian besar guru berpendapat dan merasa bahwa penggunaan strategi baru sangatlah tidak nyaman. Alasannya adalah ketidaknyamanan muncul terkadang disebabkan guru harus beradaptasi dengan hal-hal yang sama sekali baru, dan harus memiliki kemampuan yang baik untuk mempengaruhi siswa agar bisa menggunakan strategi baru. Alasan lain ketidaknyamanan ini adalah karena siswa yang dijelaskan strategi baru tersebut mengharuskan guru untuk mempelajari skill tambahan agar mereka dapat berhubungan dengan siswanya. Alasan lainnya adalah karena guru memiliki rasa percaya diri yang sedikit untuk menerapkan strategi baru (Model-Model Pengajaran, 2009: 453).
Berlandaskan pada masalah diatas berarti pendapat Freire (1986) sangatlah benar. Menurut Freire (Suyatno, 2009: 3), tugas pelatihan atau proses pendidikan saat ini masih menyentuh pada sifat magis dan naif. Kesadaran magis adalah kesadaran yang tidak mampu mengetahui antara faktor satu dengan yang lainnya. Proses pendidikan dengan metode tersebut tidak memberikan kemampuan analisa tentang kaitannya antara sistem yang diciptakan dalam proses pelatihan dalam pendidikan dengan permasalahan yang terjadi di masyarakat. Peserta didik secara dogmatis menerima kebenaran dari pendidik tanpa ada mekanisme pemahaman makna setiap konsepsi kehidupan masyarakat. Pada sifat yang kedua yaitu kesadaran naif, bahwa melihat aspek manusia menjadi penyebab masalah yang berkembang di masyarakat. Pendidikan dalam konteks naif tersebut tidak mempertanyakan sistem dan struktur pelatihan. Bahkan, sistem dan struktur yang ada dianggap sudah baik dan benar. Tugas pelatihan atau proses pendidikan adalah mengarahkan agar peserta didik dapat masuk beradaptasi dengan sistem yang sudah benar tersebut.
Dalam hal ini perlu diketahui bahwa menurut Miarso (2004) pembelajaran yang efektif adalah belajar yang bermanfaat dan bertujuan bagi peserta didik, melalui pemakaian prosedur yang tepat (Warsita, 2008: 287). Prosedur merupakan skenario yang didalamnya terdapat metode sebagai teknik dalam melaksanakan suatu proses pembelajaran untuk mencapai suatu tujuan pembelajaran. Dalam pelaksanaannya strategi yang diterapkan ditentukan oleh karakter pembelajaran dan siswa. Namun yang terjadi guru tidak pernah memperhatikan hal tersebut, sehingga yang terpenting dalam pelajaran adalah tercapainya tujuan pembelajaran tanpa memperhatikan keefektifan pembelajaran dan pengetahuan siswa.
Inovasi dalam strategi pembelajaran sangatlah penting agar pembelajaran menjadi lebih efektif dan terarah pada tujuan pembelajaran. Pembelajaran Produktif Multimedia mempunyai karakter agar siswa dapat langsung mengetahui dan dapat menerapkan kondisi Produktif Multimedia. Melihat karakter tersebut maka peneliti memilih inovasi berupa pembelajaran koperatif yang mana pembelajaran ini siswa diberi kesempatan untuk berkomunikasi atau berinteraksi sosial atau bekerja sama dengan temannya untuk mencapai tujuan pembelajaran, sementara guru bertindak sebagai motivator dan fasilitator aktivitas siswa. Artinya dalam pembelajaran kooperatif ini kegiatan aktif dengan pengetahuan dibangun sendiri oleh siswa (Konstruktivisme) dan mereka bertanggung jawab atas hasil pembelajarannya (Isjoni, 2009: 8).
Melalui inovasi yang dilakukan dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif diharapkan mampu merubah paradigma untuk memberikan suatu strategi yang berbeda dalam setiap pelajaran. Berkaitan dengan kooperatif peneliti memilih satu tipe kooperatif yang mana tipe ini dipilih karena cocok dengan karakter mata pelajaran dan siswa serta mempunyai karakter tipe kooperatif yang kompleks dari tipe-tipe lainnya. Dipilihnya tipe pembelajaran Group Investigation dikarenakan upaya bahwa pembelajaran dengan tipe ini akan mendapatkan suatu pengalaman belajar yang lebih daripada tipe kooperatif lainnya. Karena pada tipe ini sangat kompleks yang dapat mewakili tipe-tipe kooperatif lainnya. Group Investigation berusaha mencampurkan bentuk strategi pengajaran dengan dinamika proses demokrasi serta proses akademik yang berupa penelitian (Model-Model Pengajaran, 315: 2009).
Mengingat pentingnya fenomena yang terjadi tersebut, peneliti merasa tertarik untuk mengungkapkan dampak positif kegiatan pembelajaran kooperatif tipe Group Investigation yang dapat dijadikan sebagai strategi pembelajaran untuk meningkatkan aktivitas belajar siswa, yang nantinya akan berdampak pada hasil belajar siswa. Maka peneliti merumuskannya ke dalam sebuah judul yaitu “Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Group Investigation untuk Meningkatkan Hasil Belajar Mata Pelajaran Produktif Multimedia Siswa Kelas X SMKN 1 Cerme Gresik”
2. KAJIAN PUSTAKA
Strategi pembelajaran didalamnya mencakup pendekatan, model, metode, dan teknik secara spesifik. Pendekatan adalah konsep dasar yang melingkupi metode pembelajaran dengan cakupan teoritis tertentu. Model adalah bentun pembelajaran yang tergambar dari awal sampai akhir yang diasjikan secara khas oleh guru. Metode adalah prosedur pembelajaran yang difokuskan pada pencapaian tujuan. Teknik adalah cara konkret yang dipakai saat proses pembelajaran berlangsung.
Ada beberapa macam pengertian istilah dari strategi pembelajaran. Dibawah ini pengertian dari strategi pembelajaran menurut beberapa ahli yang diambil dari buku Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan (2008: 126):
  1. Menurut Kemp (1995) menjelaskan bahwa strategi pembelajaran adalah suatu kegiatan pembelajaran yang harus dikerjakan guru dan siswa agar tujuan pembelajaran dapat tercapai secara efektif dan efisien.
  2. Menurut Dick and Carey (1985) menyebutkan bahwa strategi pembelajaran itu adalah suatu set materi dan prosedur pembelajaran yang digunakan secara bersama-sama untuk menimbulkan hasil belajar pada siswa.
Dari kedua pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa strategi pembelajaran adalah suatu kegiatan perencanaan yang dilaksanakan secara bersama-sama antara guru dan siswa untuk mencapai tujuan pembelajaran secara optimal.
Pembelajaran merupakan terjemahan dari kata Instruction yang dalam bahasa Yunani disebut instructus atau Intruere yang berarti menyampaikan pikiran, dengan demikian arti instruksional adalah menyampaikan pikiran atau ide yang telah diolah secara bermakna melalui pembelajaran. Pengertian ini lebih mengarah kepada guru sebagai pelaku perubahan. Pembelajaran merupakan terjemahan dari learning, sedangkan apabila dimaknai berdasarkan makna leksikal berarti proses, cara, perbuatan mempelajari. Sedangkan pembelajaran menurut Degeng adalah upaya untuk membelajarkan siswa (Uno, 2007: 2). Pembelajaran pada dasarnya merupakan upaya pendidik untuk membantu peserta didik melakukan kegiatan belajar. Dari definisi-definisi di atas dapat disimpulkan bahwa pembelajaran merupakan rangkaian kegiatan (proses) yang dilakukan oleh siswa agar terjadi proses belajar pada diri siswa atau peserta didik dalam mencapai suatu tujuan.
Menurut Isjoni (2009: 7), secara harfiah model pembelajaran adalah strategi yang digunakan guru untuk meningkatkan motivasi belajar, sikap belajar dikalangan siswa, mampu berpikir kritis, memiliki keterampilan sosial, dan pencapaian hasil pembelajaran yang lebih optimal. Peningkatan ini didasarkan pada karakteristik pembelajaran karena tidak semua pembelajaran dapat berlangsung hanya dengan satu model saja.
Model pembelajaran merupakan pola yang digunakan sebagai pedoman dalam merencanakan pembelajaran di kelas maupun tutorial (Suprijono, 2010: 46). Sedangkan menurut Arends dalam bukunya Suprijono (2010: 46) menyebutkan bahwa model pembelajaran mengacu pada pendekatan yang digunakan, termasuk didalamnya tujuan-tujuan pembelajaran, tahap-tahap dalam kegiatan pembelajaran. Melalui model pembelajaran guru dapat membantu peserta didik mendapatkan informasi, ide, keterampilan, cara berpikir, dan mengekspresikan ide.
Arends (2001) dalam Skripsi Arroyan (2008: 17), menyeleksi enam macam model pengajaran yang sering dan praktis digunakan oleh guru dalam mengajar, atntara lain yaitu presentasi, pengajaran langsung (direct instruction), pengajaran konsep, pembelajaran kooperatif, pengajaran berdasarkan masalah (problem base instruction), dan diskusi kelas.
Sejalan dengan pendekatan konstruktivisme dalam pembelajaran, salah satu model pembelajaran yang kini banyak mendapat respon adalah model pembelajaran kooperatif. Kooperatif berasal dari bahasa Inggris yaitu Cooperate yang berarti bekerja bersama-sama. Pembelajaran menurut Degeng adalah upaya untuk membelajarkan siswa. Pembelajaran kooperatif adalah strategi belajar dengan sejumlah siswa sebagai anggota kelompok kecil yang tingkat kemampuannya berbeda (Isjoni, 2009: 14).
Menurut Slavin (1985) dalam bukunya Isjoni (2010: 12) mengatakan, bahwa pembelajaran kooperatif adalah suatu model pembelajaran dimana siswa belajar dan bekerja dalam kelompok-kelompok kecil secara kolaboratif yang anggotanya 4-6 orang dengan struktur kelompok heterogen.
Model pembelajaran koperatif adalah rangkaian kegiatan belajar yang dilakukan oleh siswa dalam kelompok-kelompok tertentu untuk mencapai tujuan pembelajaran yang telah dirumuskan. Terdapat empat unsur penting dalam pembelajaran kooperatif yaitu, adanya peserta didik yang terbagi dalam kelompok, adanya aturan kelompok, adanya upaya belajar setiap anggota kelompok, dan adanya tujuan yang harus dicapai (Sanjaya, 2008: 241). Pembelajaran kooperatif adalah miniatur dari bermasyarakat, dan belajar menyadari kekurangan dan kelebihan masing-masing (Suyatno, 2009: 51).
Beberapa ciri dari pembelajaran kooperatif adalah setiap anggota memiliki peran, terjadi hubungan interaksi langsung diantara siswa, setiap anggota kelompok bertanggung jawab atas belajarnya dan juga teman-teman sekelompoknya, guru membantu mengembangkan keterampilan-keterampilan interpersonal kelompok, dan guru hanya berinteraksi dengan kelompok saat diperlukan.
Tiga konsep sentral yang menjadi karakteristik pembelajaran sebagaimana dikemukakan Slavin (1995) dalam bukunya Isjoni (2009: 33), yaitu Penghargaan kelompok, pertanggung jawaban individu, dan kesempatan yang sama untuk berhasil.
Macam tipe pembelajaran model pembelajaran kooperatif sangat beragam seperti yang terdapat dalam buku Suyatno (2009) tentang Menjelajah Pembelajaran Inovatif ada 96 variasi model pembelajaran kooperatif.
Akan tetapi dari banyak macam tipe pembelajaran koperatif di atas yang banyak dikembangkan adalah model STAD dan Jigsaw. Group Investigation sendiri adalah model pembelajaran yang paling kompleks dan paling sulit diterapkan, sehingga hal inilah yang menjadi dasar peneliti menerapkan model GI dan sesuai dengan karakteristik mata pelajaran.
  1. Student Team Achievement Division (STAD)
    Tipe STAD adalah model pembelajaran kooperatif untuk pengelompokkan kemampuan campur yang melibatkan pengakuan tim dan tanggung jawab kelompok untuk pembelajaran individu anggota. Keanggotaan campuran menurut tingkat prestasi, jenis kelamin, dan suku.
  2. Jigsaw
    Ciri-ciri pembelajaran kooperatif tipe jigsaw, yaitu setiap anggota tim terdiri dari 5-6 orang yang disebut kelompok asal, kelompok asal tersebut dibagi lagi menjadi kelompok ahli, kelompok ahli dari masing-masing kelompok asal berdiskusi sesuai keahliannya, dan kelompok ahli kembali ke kelompok asal untuk saling bertukar informasi.
  3. Group Investigation
    Tipe ini merupakan model pembelajaran kooperatif yang kompleks karena memadukan antara prinsip belajar kooperatif dengan pembelajaran yang berbasis konstruktivisme dan prinsip belajar demokrasi. Tipe ini dapat melatih siswa untuk menumbuhkan kemampuan berfikir mandiri. Keterlibatan siswa secara aktif dapat terlihat mulai dari tahap pertama sampai tahap akhir pembelajaran akan memberi peluang kepada siswa untuk lebih mempertajam gagasan dan guru akan mengetahui kemungkinan gagasan siswa yang salah sehingga guru dapat memperbaiki kesalahannya.
Secara ringkas sintak pembelajaran tipe pembelajaran GI adalah pemilihan topik, perencanaan kooperatif, implementasi, analisis dan sintesis, presentasi hasil final, dan evaluasi. Jadi tipe GI merupakan model pembelajaran kooperatif yang melibatkan kelompok kecil dimana siswa bekerja menggunakan inquiri kooperatif, perencanaan, proyek, diskusi kelompok, dan kemudian mempresentasikan penemuan mereka kepada kelas. Tipe ini paling kompleks dan sulit diterapkan dibandingkan metode kooperatif yang lain.
Sharan (1990) mengatakan bahwa pembelajaran dengan sistem pengelompokan dapat menyebabkan berpindahnya motivasi dari tataran eksternal pada tataran internal (Joyce, 2009: 309). Dengan kata lain, ketika siswa bekerjasama dalam menyelesaikan sebuah tugas, mereka akan tertarik pada materi pembelajaran tersebut karena menyadari kepentingannya sebagai siswa terhadap materi tersebut.
Secara rinci keuntungan menggunakan model pembelajaran kooperatif adalah dapat memberikan efek yang sangat ampuh pada waktu singkat, baik dalam aspek pembelajaran akademik maupun aspek skill; memberikan seorang (atau beberapa orang) pendamping belajar yang menyenangkan dan bersama-sama mengembangkan skill bersosial serta berempati terhadap orang lain; dapat meningkatkan perasaan positif terhadap diri sendiri maupun orang lain.
Menurut Sanjaya (2008: 249) keunggulan dan kelemahan dari pembelajaran kooperatif adalah :
  1. Keunggulan : siswa tidak terlalu menggantungkan pada guru, akan tetapi dapat menambah kepercayaan kemampuan berpikir sendiri; dapat mengembangkan kemampuan mengungkapkan ide atau gagasan; dapat membantu anak untuk merespon orang lain; dapat memberdayakan siswa untuk lebih bertanggung jawab dalam belajar; dapat meningkatkan prestasi akademik sekaligus kemampuan social; dapat mengembangkan kemampuan siswa untuk menguji ide dan pemahamannya sendiri, menerima umpan balik; dapat meningkatkan kemampuan siswa menggunakan informasi dan kemampuan belajar abstrak menjadi nyata; dapat meningkatkan motivasi dan memberikan rangsangan untuk berpikir.
  2. Kelemahan: dengan leluasanya pembelajaran maka apabila keleluasaan itu tidak optimal maka tujuan dari apa yang dipelajari tidak akan tercapai; penilaian kelompok dapat membutakan penilaian secara individu apabila guru tidak jeli dalam pelaksanaannya; mengembangkan kesadaran berkelompok memerlukan waktu yang panjang.
Tipe Group Investigation merupakan model pembelajaran kooperatif yang melibatkan kelompok kecil dimana siswa bekerja menggunakan inquiri kooperatif, perencanaan, proyek, diskusi kelompok, dan kemudian mempresentasikan penemuan mereka kepada kelas. Tipe ini paling kompleks dan sulit diterapkan dibandingkan tipe model kooperatif yang lain.
Tipe ini merupakan model pembelajaran kooperatif yang kompleks karena memadukan antara prinsip belajar kooperatif dengan pembelajaran yang berbasis konstruktivisme dan prinsip belajar demokrasi. Tipe ini dapat melatih siswa untuk menumbuhkan kemampuan berfikir mandiri. Keterlibatan siswa secara aktif dapat terlihat mulai dari tahap pertama sampai tahap akhir pembelajaran akan memberi peluang kepada siswa untuk lebih mempertajam gagasan dan guru akan mengetahui kemungkinan gagasan siswa yang salah sehingga guru dapat memperbaiki kesalahannya.
Sharan (1984) dan rekan-rekannya sejawatnya mendeskripsikan enam langkah pendekatan Group Investigation (Arends, 2008: 14):
  1. Pemilihan Topik. Siswa memilih subtopic tertentu dalam bidang permasalahan umum tertentu, yang biasanya diterangkan oleh guru. Siswa kemudian diorganisasikan kedalam kelompok-kelompok kecil berorientasi tugas yang beranggotakan dua sampai enam orang. Komposisi kelompoknya heterogen baik secara akademis maupun etnis.
  2. Cooperative learning. Siswa dan guru merencanakan prosedur, tugas, dan tujuan belajar tertentu dengan sub-sub topic yang dipilih dalam langkah a.
  3. Implementasi. Siswa melaksanakan rencana yang diformulasikan dalam langkah b. Pembelajaran mestinya melibatkan beragam kegiatan dan keterampilan dan seharusnya mengarahkan siswa ke berbagai macam sumber di dalam maupun diluar sekolah. Guru mengikuti dari dekat perkembangan masing-masing kelompok dan menawarkan bantuan bila dibutuhkan.
  4. Analisis dan sintesis. Siswa menganalisis dan mengevaluasi informasi yang diperoleh selama langkah c dan merencanakan bagaimana informasi itu dapat dirangkum dengan menarik untuk dipertontonkan atau dipresentasikan kepada teman-teman sekelas.
  5. Presentasi produk akhir. Beberapa atau semua kelompok dikelas memberikan presentasi menarik tentang topic-topik yang dipelajari untuk membuat satu sama lain saling terlibat dalam pekerjaan temannya dan mencapai perspektif yang lebih luas tentang sebuah topic. Presentasi kelompok dikoordianasikan oleh guru.
  6. Evaluasi. Dalam kasus-kasus yang kelompoknya menindaklanjuti aspek-aspek yang berbeda dari topic yang sama, siswa dan guru mengevaluasi kontribusi masing-masing kelompok ke hasil pekerjaan secara keseluruhan. Evaluasi dapat memasukkan asesmen individual atau kelompok atau dua-duanya.
3. METODE PENELITIAN
Dalam suatu penelitian, penggunaan metode penelitian sangat penting bagi peneliti. Menurut Sugiyono (2009: 2) metode penelitian pada dasarnya merupakan cara ilmiah untuk mendapatkan data dengan tujuan dan kegunaan tertentu. Dengan metode penelitian yang tepat, maka diharapkan tujuan penelitian dapat tercapai. Di dalam metode penelitian terdapat petunjuk-petunjuk tentang bagaimana seorang peneliti melaksanakan penelitiannya sehingga dapat menghasilkan sesuatu yang benar dan kebenarannya dapat dipertanggung jawabkan secara ilmiah.
Dapat disimpulkan bahwa metode penelitian adalah cara ilmiah yang memberikan rambu-rambu agar penelitian mempunyai patokan atau member panduan kepada peneliti dengan uraian maupun teknik yang dapat dipertanggung jawabkan. Pada bab III ini terdapat aturan atau prosedur ilmiah peneliti, dalam melakukan penelitiannya. Berikut akan peneliti bahas tentang metode penelitian yang berkaitan dengan penelitian yang akan dilakukan, secara berturut-turut adalah:
  1. Jenis Penelitian
  2. Desain Penelitian
  3. Tempat dan Waktu Penelitian
  4. Subjek Penelitian
  5. Variabel Penelitian
  6. Prosedur Penelitian
  7. Metode Pengumpulan Data
  8. Perangkat Pembelajaran dan Instrumen Penelitian
  9. Teknik Analisis Data
3.1 Jenis Penelitian
Berdasarkan permasalahan yang akan diteliti dalam penelitian ini, maka penelitian dengan judul “Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Group Investigation untuk Meningkatkan Hasil Belajar Mata Pelajaran Produktif Multimedia Siswa Kelas X SMKN 1 Cerme Gresik”, menurut pendekatan dalam penelitian, jenis penelitian yang peneliti gunakan adalah penelitian eksperimen, Penelitian eksperimen (Experimental Research) merupakan kegiatan penelitian yang bertujuan untuk menilai pengaruh suatu perlakuan/tindakan/treatment pendidikan terhadap tingkah laku siswa atau menguji hipotesis tentang ada tidaknya pengaruh tindakan itu bila dibandingkan dengan tindakan lain. Penelitian dengan metode eksperimental adalah metode penelitian yang digunakan untuk mencari pengaruh perlakuan tertentu terhadap yang lain dalam kondisi yang terkendalikan (Sugiyono, 2009: 72).
Berdasarkan hal tersebut maka tujuan umum penelitian eksperimen adalah untuk meneliti pengaruh dari suatu perlakuan tertentu terhadap gejala suatu kelompok tertentu dibanding dengan kelompok lain yang menggunakan perlakuan yang berbeda. Tindakan di dalam eksperimen disebut treatment, dan diartikan sebagai semua tindakan, semua variasi atau pemberian kondisi yang akan dinilai/diketahui pengaruhnya. Sedangkan yang dimaksud dengan menilai tidak terbatas adalah mengukur atau melakukan deskripsi atas pengaruh treatment yang dicobakan sekaligus ingin menguji sampai seberapa besar tingkat signifikansinya (kebermaknaan atau berarti tidaknya) pengaruh tersebut bila dibandingkan dengan kelompok yang sama tetapi diberi perlakuan yang berbeda.
3.2 Desain Penelitian
Campbell & Stanley membagi jenis desain eksperimen berdasarkan baik buruknya eksperimen yaitu Pre Eksperimental Design (eksperimen yang belum baik) dan True Eksperimental Design (eksperimen yang dianggap sudah baik). Dari kedua jenis desain penelitian Eksperimen tersebut maka peneliti memilih jenis metode penelitian True Eksperimental Design. Pemilihan jenis atau desain penelitian ini adalah untuk melihat seberapa besar pengaruh perlakuan dengan menggunakan tipe Group Investigation terhadap hasil belajar siswa. Penelitian eksperimen ini menggunakan jenis Control Group Pre Test-Post Test.

E O1 X O2

K O3X O4


Pola :
Sumber: Arikunto (2006: 86)
Keterangan :
O1 & O3 = Tes awal untuk melihat kemampuan awal siswa sebelum treatment dilakukan.
O2 & O4= Tes akhir untuk melihat kemampuan akhir siswa setelah treatment dilakukan.
E = Kelas Eksperimen (kelas yang menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Group Investigation)
K = Kelas Kontrol (kelas yang menggunakan model pembelajaran Konvensional)
X = Treatment (model Kooperatif tipe Group Investigation pada Eksperimen dan model Konvensional pada Kontrol)
Dalam desain ini disebut control Group pre-test post-test design karena dalam desain ini kedua kelompok O1 dan O3 diberi tes awal (pre-test) dengan tes yang sama. Setelah treatment selesai dilakukan maka kedua kelompok O2 dan O4 diberikan tes yang sama sebagai tes akhir (Post-test). Penggunaan model eksperimen ini dikarenakan untuk memberikan suatu hasil yang mempunyai tingkat validitas maksimal.
3.3 Tempat dan Waktu Penelitian 
Penelitian ini dilakukan di SMK Negeri 1 Cerme selama 2 bulan pada bulan Januari-Pebruari semester 2 (Genap) tahun pelajaran 2010/2011.
3.4 Subjek Penelitian 
Subjek penelitian ini menggunakan X Multimedia SMK N 1 Cerme yang berjumlah dua kelas yaitu X MM 1 dan X MM 2. Penentuan kelas yang menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Group Investigation dengan model pembelajaran konvensional adalah dengan cara diundi sehingga lebih adil. Untuk hasil undian kelas X MM 1 menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Group Investigation dan kelas X MM 2 menggunakan model pembelajaran konvensional.
3.5 Variabel Penelitian 
Agar penulis dapat memusatkan perhatian pada sasaran yang telah ditetapkan, maka diberikan batasan tiap-tiap variabel-variabel berikut ini:
  1. Variabel bebas
    Variabel bebas dalam penelitian ini adalah pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Group Investigation pada materi Merawat Peralatan Multimedia di kelas X MM 1; pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran konvensional pada materi Merawat Peralatan Multimedia di kelas X MM 2.
  2. Variabel Terikat
    Variabel terikat dalam penelitian ini adalah hasil belajar siswa yang berupa skor tes akhir pada materi Merawat Peralatan Multimedia.

    • Hasil belajar siswa dalam mata pelajaran Produktif Multimedia dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Group Investigation.
      Adapun indikator variabel adalah hasil belajar siswa yang berupa nilai baik sebelum maupun setelah adanya kegiatan pembelajaran sedangkan variabel penelitian ini didefinisikan sebagai hasil yang telah dicapai siswa dalam belajar setelah adanya kegiatan pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Group Investigation pada mata pelajaran Produktif Multimedia.
    • Hasil belajar siswa dalam mata pelajaran Produktif Multimedia dengan menggunakan model pembelajaran konvensional.
      Adapun indikator variabel adalah hasil belajar siswa yang berupa nilai baik sebelum maupun setelah adanya kegiatan pembelajaran sedangkan variabel penelitian ini didefinisikan sebagai hasil yang telah dicapai siswa dalam belajar setelah adanya kegiatan pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran konvensional pada mata pelajaran Produktif Multimedia
3.6 Prosedur Penelitian 
Untuk mendapatkan data yang dapat dipertanggung jawabkan, maka diperlukan persiapan dalam pengumpulan data dan juga dalam proses pengumpulan data. Adapun langkah-langkah yang ditempuh dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
  1. Menyusun proposal penelitian
    Proposal penelitian ini disusun oleh peneliti dengan pertimbangan dosen pembimbing. Proposal penelitian ini memuat tentang semua rencana kegiatan selama penelitian. Hal ini bertujuan untuk memberikan arah dan tujuan yang jelas pada pelaksanaan penelitian.
  2. Persiapan pengumpulan data: mempersiapkan surat ijin penelitian; mengadakan survei ke sekolah dengan tujuan untuk mengetahui kegiatan belajar Multimedia yang telah dilakukan; menentukan kelas yang akan digunakan sebagai subjek penelitian yaitu kelas eksperimen dan kelas kontrol; menyusun RPP; menyusun kisi-kisi soal; menyusun soal pre-tes post-test; mengadakan uji validitas dan reliabilitas soal dan menghitungnya; menyusun soal berdasarkan hasil validitas.
  3. Pelaksanaan: melaksanakan pengajaran Multimedia pada kelas eksperimen (X MM 1) dan kelas kontrol (X MM 2); dalam proses belajar mengajar, guru bidang studi bertindak sebagai pengajar. Selama proses belajar mengajar, guru mengacu pada Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), sedangkan peneliti mengamati proses belajar mengajar; mengadakan tes awal dan akhir pada kelas eksperimen dan kelas kontrol dengan soal yang sama; menyusun kisi-kisi angket; menyebarkan angket kepada kelas kontrol untuk uji validitas dan reliabilitas; menyebarkan angket kepada kelas eksperimen; menganalisis hasil penelitian; membuat laporan hasil penelitian.
3.7 Metode pengumpulan Data
Pengumpulan data merupakan pekerjaan penting dalam meneliti. Untuk dapat mengumpulkan data yang relevan, akurat dan valid sesuai dengan kebutuhan peneliti perlu digunakan metode pengumpulan data. Data-data informasi yang diperoleh dalam kegiatan yang sesuai dengan kenyataan disebut dengan metode pengumpul data.
Metode pengumpul data adalah cara yang digunakan untuk mengumpulkan data. Metode yang digunakan adalah berupa metode observasi, angket, dan tes.
Dalam hal ini peneliti dalam mengumpulkan datanya menggunakan observasi jenis partisipatif pasif tidak terstruktur. Peneliti terjun mengamati secara langsung dan mengumpulkan data sesuai dengan kondisi lapangan.
  1. Teknik Tes adalah suatu alat pengukur yang berupa serangkaian pertanyaan yang harus dijawab secara sengaja dalam suatu situasi yang distandarisasikan, dan yang dimaksudkan untuk mengukur kemampuan dan hasil belajar individu atau kelompok.
  2. Teknik Non Tes
Jenis-jenis alat pengukur non tes adalah :
  1. Observasi atau pengamatan (observation)
    Observasi adalah suatu teknik pengamatan yang dilaksanakan secara langsung dan secara teliti terhadap suatu gejala dalam suatu situasi di suatu tempat. Beberapa bentuk observasi yang dapat dilakukan dalam penelitian adalah observasi partisipasi, observasi terus terang atau tersamar, observasi tidak berstruktur.
  2. Angket
    Angket adalah sejumlah pertanyaan tertulis yang digunakan untuk memperoleh informasi dari responden dalam arti laporan tentang pribadinya, atau hal-hal yang ia ketahui (Arikunto, 2006: 151).
    Angket dapat dibedakan atas beberapa jenis, tergantung pada sudut pandangan yaitu dipandang dari cara menjawab, maka ada angket terbuka dan angket tertutup; dipandang dari jawaban yang diberikan ada angket langsung dan angket tak langsung; dipandang dari bentuknya maka ada angket pilihan ganda angket isian check list, Rating-Scale (Skala Bertingkat)
Prestasi belajar adalah suatu tujuan dari penerapan model Group Investigation dibandingkan dengan model pembelajaran konvensional. Pada penelitian ini digunakan tes awal sebagai upaya untuk mencari kemampuan siswa dan tes akhir sebagai upaya untuk melihat hasil dari proses eksperimen. Maka penelitian ini menggunakan tes tulis objektif pilihan ganda sebagai tes acuan patokan yang dikembangkan oleh guru kompetensi dan peneliti. Dalam penelitian ini, test diberikan sebanyak dua kali, yaitu pre test dan post test. Pre test adalah test yang diberikan sebelum pengajaran dimulai, dan bertujuan untuk mengetahui seberapa jauh penguasaan siswa terhadap bahan pengajaran (pengetahuan dan ketrampilan) yang akan di ajarkan. Post test adalah test yang diberikan pada setiap akhir program satuan pengajaran. Tujuan post test adalah untuk mengetahui seberapa jauh pencapaian siswa terhadap bahan pengajaran yang disampaikan oleh guru setelah mengalami suatu kegiatan belajar mengajar. Dengan melalui tes tulis ini maka bisa dilihat perbandingan hasil belajar siswa yang diperoleh pada standar kompetensi Merawat Peralatan Multimedia.
Selain menggunakan tes hasil belajar, peneliti menggunakan angket yang disebarkan kepada siswa berupa angket tertutup Rating-Scale dan observasi tidak terstruktur untuk mengetahui penerapan model pembelajaran tipe Group Investigation terhadap efektifnya proses pembelajaran.
3.8 Perangkat Pembelajaran dan Instrumen Penelitian
  1. Perangkat Pembelajaran
    Perangkat pembelajaran yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah silabus, Rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP), dan soal untuk pre-test dan post-test.
  2. Instrumen Penelitian
    Pendapat Sugiyono (2009: 102) Instrumen penelitian adalah suatu alat yang digunakan untuk mengukur fenomena alam maupun sosial yang diamati. Tanpa instrumen, kegiatan penelitian tidak akan dapat berjalan dengan baik, karena data-data yang diperlukan belum disiapkan secara sistematis sehingga arah penelitian menjadi tidak jelas. Untuk memperoleh data dalam penelitian ini, maka instrumen penelitian yang digunakan adalah lembar tes hasil belajar siswa, angket, serta observasi. Tes dalam penelitian ini berupa tes awal dan tes akhir disusun untuk mengetahui hasil belajar siswa pada standar kompetensi Merawat Peralatan Multimedia. Sedangkan angket dan observasi digunakan untuk mengetahui efektifnya penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Group Investigation.
Soal tes tersebut harus dilakukan pengujian terhadap validitas, reliabilitas, dan taraf kesukaran. Pengujian ini dilakukan di SMK NU 1 Gresik kelas X MM dengan 37 siswa. Sedangkan angket juga harus dilakukan pengujian terhadap validitas dan reliabilitas, pengujian ini dilakukan pada siswa kelompok kontrol.
3.9 Teknik Analisis Data
Data yang diperoleh dalam penelitian ini adalah data kuantitatif, yang berupa nilai pre test dan post test. Untuk dapat menganalisis data dalam penelitian ini, maka digunakan uji-t. Syarat penggunaan uji-t adalah subjek harus berdistribusi normal sehingga perlu dilakukan uji normalitas data. Sedangkan uji homogenitas varians diperlukan untuk mengetahui subjek yang diambil homogen atau tidak.
Langkah-langkah yang digunakan dalam menganalisis data adalah sebagai berikut :
  1. Uji Normalitas
    Uji normalitas digunakan untuk mengetahui apakah subjek berasal dari populasi yang berdistribusi normal atau tidak.
  2. Uji Homogenitas
    Untuk mengetahui apakah kedua subjek berasal dari populasi yang mempunyai varians yang homogen atau tidak, maka peneliti menggunakan uji homogenitas varians.
  3. Uji Hipotesis Prosedur uji beda hipotesis ini adalah dengan melihat apakah data merupakan sebaran normal atau tidak. Apabila sebaran normal maka menggunakan statistik parametrik dan apabila sebaran tidak normal maka harus menggunakan statistik non parametrik.
Untuk statistik parametrik maka digunakan rumus uji t yang kemudian dibandingkan harga t hitung dengan t tabel, dengan ketentuan apabila thitung > ttabel = Ho ditolak dan Ha diterima atau apabila thitung ? ttabel = Ho diterima dan Ha ditolak.
Sedangkan untuk statistik non parametrik digunakan rumus Chi Kuadrat () dua Subjek yang kemudian dibandingkan harga ?2 hitung dengan ?2 tabel dengan ketentuan apabila ?2hitung> ?2tabel = Ho ditolak Ha diterima atau apabila ?2hitung? ?2tabel = Ho diterima dan Ha ditolak. Dengan ?2tabel taraf signifikansi 5%=3,84 dan taraf signifikansi 1%=6,63
4. HASIL PENELITIAN
Berdasarkan analisis dengan menggunakan uji Chi Kuadrat Dua Subjek diperoleh hasil ?2hitung = 3,835 sedangkan ?2tabel diketahui sebesar 3,84 (untuk taraf signifikansi 5%) dan 6,635 (untuk taraf signifikansi 1%) maka kesimpulannya adalah ada perbedaan terhadap hasil belajar siswa antara kelas yang menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Group Investigation dan model pembelajaran konvensional pada mata pelajaran Produktif Multimedia kelas X Multimedia SMK N 1 Cerme Gresik. Dalam hal ini hasil belajar siswa pada kelompok eksperimen lebih baik dari hasil belajar siswa pada kelompok kontrol dengan selisih rata-rata kenaikan antar pre-test dan post test adalah 6,25 dibandingkan dengan kelompok kontrol yang selisih kenaikan rata-ratanya 4,678. Sehingga hipotesis yang menyatakan hasil belajar siswa dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Group Investigation lebih baik dengan model pembelajaran konvensional diterima.
Hasil belajar yang lebih baik tersebut juga didukung dengan adanya respon siswa yang positif dalam penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Group Investigation. Hal ini dapat dilihat dari hasil angket yang disebarkan kepada siswa tentang respon terhadap model pembelajaran kooperatif tipe Group Investigation yang dilakukan. 5. KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dikemukakan pada bab IV, maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:
Bahwa ada perbedaan yang signifikan antara hasil belajar siswa yang menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Group Investigation dengan model pembelajaran konvensional pada mata pelajaran Produktif Multimedia kompetensi dasar Merawat Peralatan Multimedia di kelas X Multimedia di SMK Negeri 1 Cerme Gresik, yang mana hal itu dapat diketahui dari hasil belajar dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Group Investigation lebih baik daripada model pembelajaran konvensional.
Pelaksanaan pembelajaran kooperatif tipe Group Investigation dimulai dari adanya pengenalan materi kepada siswa yang selanjutnya siswa memilih sub toppik yang diberikan oleh guru kemudian melakukan investigasi secara berkelompok mengenai tugas yang diemban masing-masing. Dalam pengelompokan siswa bisa dilakukan dengan berbagai cara, baik heterogen maupun homogen sehingga lebih mudah dalam melaksanakan model pembelajran kooperatif tipe Group Investigation. Investigasi yang dilakukan dilakukan dalam pengawasan guru agar guru dapat menilai seberapa baik interaksi antar siswa, sehingga hasil yang dilakukan dalam kelompok dapat dikategorikan optimal. Investigasi ini bisa ditambah diluar kelas pembelajaran asalkan hasil yang didapat siswa dari investigasi kelompok secara pengawasan guru dapat dilihat perkembangannya.
Hasil investigasi akan dilanjutkan dengan tanggung jawab antar kelompok tentang hasil yang didapatnya kepada siswa lain dalam kelompok lainnya didepan kelas, sehingga hasil dari kelompok investigasi dapat lebih baik dan dipahami oleh seluruh siswa dikelas itu. Penghargaan kepada kelompok yang berprestasi harus dilakukan agar siswa menjadi bersemangat dalam pelajaran selanjutnya.
5.2 SARAN
Berdasarkan hasil simpulan diatas maka peneliti ingin memberikan masukan berupa saran-saran yang bersifat konstruktif demi peningkatan kualitas pembelajaran dan peningkatan kreativitas siswa. Saran-saran tersebut antara lain :
  1. Perubahan dalam kegiatan pembelajaran sangat diperlukan bagi siswa karena siswa akan lebih bersemangat dalam belajar sehingga hasil belajar yang didapat optimal.
  2. Perubahan dalam pembelajaran memerlukan suatu teknik yang sangat dan harus dikuasai oleh seorang guru, jadi sebelum mengadakan proses pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran tertentu maka harus menguasai dan paham tentang model pembelajaran yang akan dilaksanakan.
DAFTAR PUSTAKA 

  • Arends, Richard. I. 2007. Belajar Untuk Mengajar. Terjemahan oleh Helly Prajitno Soetjipto dan Sri Mulyantini Soetjipto. 2008. Yogyakarta: Pustaka Pelajar
  • Arroyan, Finne. 2008. Penerapan Pembelajaran Tematik Model Webbed untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Pokok Bahasan Mengenal Lingkungan Sekitar Pada Siswa Kelas IA SDN SAWAHAN IX Surabaya. Skripsi tidak diterbitkan. Surabaya: JTP FIP Unesa
  • Arikunto, Suharsimi. 2003. Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: bumi Aksara.
  • Arikunto, Suharsimi. 2006. Prosedur Penelitian. Jakarta: Rineka Cipta
  • Bungin, Burhan. 2008. Metodologi Penelitian Kuantitatif : Komunikasi, Ekonomi, dan Kebijakan Publik Serta Ilmu-Ilmu Sosial Lainnya. Jakarta: Kencana
  • Hamalik, Oemar. 2006. Proses Belajar Mengajar. Bandung: Bumi Aksara
  • Hamalik, Oemar. 2007. Dasar-Dasar Pengembangan Kurikulum. Bandung: Remaja Rosdakarya
  • Kurnia, Tri Nurhayati. 2003. Kamus Lengkap Bahasa Indonesia. Jakarta: Eska Media
  • Isjoni. 2009. Pembelajaran Kooperatif. Yogyakarta: Pustaka Pelajar
  • Isjoni. 2010. Cooperative Learning Evektivitas pembelajaran kelompok. Bandung: Alfabeta
  • Joyce, Bruce. Dkk. 2009. Model-Model Pengajaran. Terjemahan oleh Achmad Fawaid dan Ateilla Mirza. 2009. Yogyakarta: Pustaka Pelajar
  • Masidjo, Ign. 2003. Penilaian Pencapaian Hasil Belajar Siswa di Sekolah. Yogyakarta: Kanisius
  • Moedjiono dan Dimyati, Moh. 1992. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Depdikbud
  • Narsoyo, T. Reksoatmodjo. 2009. Statistika Eksperimen Rekayasa. Bandung: Refika Aditama
  • Sagala, Syaiful. 2010. Supervisi Pembelajaran Dalam Profesi Pendidikan. Bandung: Alfabeta
  • Sanjaya, Wina. 2008. Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Jakarta: Kencana Prenada Media Group
  • Seels, B. Barbara. 1994. Teknologi Pembelajaran. Jakarta: Universitas Negeri Jakarta
  • Sudjana, Nana. 2007. Teknologi Pengajaran. Bandung: Sinar Baru Algensindo
  • Sugiyono. 2009. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung: Alfabeta
  • Sugiyono. 2009. Statistika untuk Penelitian. Bandung: Alfabeta
  • Suparlan. Dasim Budimansyah. Danny Meirawan. 2008. PAKEM (Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan). Bandung: Genesindo
  • Suprijono, Agus. 2010. Cooperative Learning Teori dan Aplikasi PAIKEM. Yogyakarta: Pustaka Pelajar
  • Suyatno. 2009. Menjelajah Seratus Pambelajaran Inovatif. Sidoarjo: Masmedia Buana Pustaka
  • Uno, Hamzah. B. 2007. Perencanaan Pembelajaran. Jakarta: Bumi Aksara
  • Warsita, Bambang. 2008. Teknologi Pembelajaran, Landasan dan Aplikasinya. Jakarta: Rineka Cipta

Posted 06 Aug 2011 07:16 AM by admin in Abstrak Penelitian


Download Attachment :
G1898518 Instalasi Wordpress Offline.pdf
Mkpbm I Mata Kuliah Pbm I.doc
Pengaruh Ifrs Terhadap Silabus Dan Materi Pengajaran Akuntansi Keuangan.doc
Workshop Pengembangan Silabus Dan Rpp Pada Guruguru Sekolah Dasar Se Kota Surabaya Tahun 2011.doc
Nara Sumber Pada Workshop Pengembangan Silabus Dan Rpp Pada Guruguru Sd Pemerintah Kota Surabaya Tanggal 20 Juli 2010.doc

Recent Post

  • Prinsip pendidikan dan
    Prinsip pendidikan dan pengajaran peserta didik autis - AsesmenAsesmen adalah proses yang sitematis dalam mengumpulkan data berfungsi untuk ...
  • Contoh Asesmen Perkembangan
    Contoh Asesmen Perkembangan Peserta Didik Autis - Aspek Sosial Apakah anak dapat diajak dalam kegiatan menempel ...
  • Hakikat Dan Perkembangan
    Hakikat Dan Perkembangan Motorik Anak Usia Dini - Motorik adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan gerakan-gerakan tubuh. Secara ...
  • Bagaimana Anak Usia
    Bagaimana Anak Usia Dini Belajar - Belajar dapat didefinisikan sebagai perubahan tingkah laku yang terjadi akibat ...
  • Jenis-jenis Asesmen Autentik
    Jenis-jenis Asesmen Autentik - Dalam rangka melaksanakan asesmen autentik yang baik, guru harus memahami ...
  • Asesmen Autentik dan
    Asesmen Autentik dan Belajar Autentik - Asesmen Autentik menicayakan proses belajar yang Autentik pula. Menurut Ormiston ...
  • Asesmen Autentik dan
    Asesmen Autentik dan Tuntutan Kurikulum 2013 - Asesmen autentik memiliki relevansi kuat terhadap pendekatan ilmiah dalam pembelajaran ...
  • Definsi dan Makna
    Definsi dan Makna Asesmen Autentik - Asesmen autentik adalah pengukuran yang bermakna secara signifikan atas hasil ...
  • Landasan Kurikulum 2013
    Landasan Kurikulum 2013 - Kurikulum 2013 dikembangkan berdasarkan ketentuan yuridis yang mewajibkan adanya pengembangan ...
  • Perkembangan Kognitif dan
    Perkembangan Kognitif dan Kemampuan Calistung (Baca-Tulis-Hitung) - NAEYC (National Association for the Education of Young Children) memberikan ...
  • Tahap Perkembangan Kognitif
    Tahap Perkembangan Kognitif anak usia dini (lahir-8 tahun) menurut Piaget - Tahap Sensorimotor (lahir-18 bulan) Pada tahap ini, bayi hanya bergantung ...
  • Tahapan kognitif Anak
    Tahapan kognitif Anak - Kognisi adalah proses dan produk yang terjadi dalam otak sehingga ...
  • Model Pembelajaran Reggio
    Model Pembelajaran Reggio Emilia - Model pembelajaran Reggio Emilia merupakan contoh model ...
  • Model Pembelajaran Montessori
    Model Pembelajaran Montessori - Model pembelajaran Montessori mengacu pada pembelajaran yang dikembangkan Maria Montessori, ...
  • Model pembelajaran Bermain
    Model pembelajaran Bermain Kreatif - Model pembelajaran bermain kreatif mulai dikembangkan pada tahun 1985 di ...




Checkpagerank.net