RSS

..: Teknologi Pendidikan Universitas Negeri Surabaya :..

Penerapan Teknologi Informasi Dan Komunikasi Dalam Pendidikan di Era Globalisasi

Prof. Dr. Yusufhadi Miarso, M.Sc
Makalah Disajikan dalam Seminar Nasional The Power of ICT in Education. PPs UNJ 15 April 2008

yusuf-hadi-miarso

Pendahuluan

Tidak dimungkiri lagi bahwa teknologi sebagai bagian integral dari budaya telah berkembang sedemikai rupa, sehingga dapat dijadikan tolok ukur perkem-bangan budaya suatu masyarakat. Masyarakat dengan budaya yang maju menggunakan dan bahkan menghasilkan teknologi yang maju pula; sebaliknya masyarakat yang kurang maju menggunakan teknologi yang lebih sederhana. Atas dasar itu maka Panitia Seminar menentukan tema dan judul seminar “The Power of ICT in Education”, yang menurut pendapat saya lebih merupakan pendekaran perekayasaan, yaitu kemampuan teknologi.

Sejak tahun 1969/70 sebenarnya Pemerintah telah berniat untuk meng-gunakan teknologi dalam bidang pendidikan. Dalam PELITA I ditentukan suatu kebijakan digunakannya siaran radio dan televisi untuk pemerataan mutu pendidikan. Saya sebagai salah seorang yang mendapat tugas untuk mewujudkan kebijakan itu merasa bersyukur karena tiga Menteri Pendidikan dan Kebudayaan pada periode awal PELITA I s/d III tidak menganut kebijakan karena dorongan perekayasaan (technology driven), melainkan dorongan pendidikan (education driven). Menteri Mashuri misalnya menggariskan kebijakan “… penjelajahan kemungkinan (penggunaan teknologi komunikasi, sic)… harus mempertimbangkan keterbatasan dalam tenaga.” Menteri Syarif Thayeb memberikan prioritas utama :”… pengembangan tenaga dalam berbagai aspek teknologi pendidikan…” (bukan hanya “teknologi” tetapi “teknologi pendidikan”). Sedangkan Menteri Daoed Joesoef menyatakan bahwa :”Teknologi pendidikan beroperasi dalam seluruh bidang pendidikan secara integratif…”

Dalam makalah ini saya menggunakan pendekatan pendidikan, yaitu dengan mengutamakan tuntutan pembaharuan pendidikan, terutama aspek pedagogik dengan fokus pada orang atau sumberdaya manusianya.

Perubahan Paradigma Pendidikan

Undang-undang No. 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional (UU Sisdiknas) telah mengukuhkan berbagai usaha pembaharuan dalam bidang pendidikan yang telah diperjuangkan mulai tahun 1976. Dalam rangka pembaharuan sistem pendidikan nasional telah ditetapkan visi pendidikan nasional, yaitu terwujutnya sistem pendidikan sebagai pranata sosial yang kuat dan berwibawa untuk memberdayakan semua Warga Negara Indonesia berkembang menjadi manusia yang berkualitas sehingga mampu dan proaktif menjawab tantangan zaman yang selalu berubah. Terkait dengan visi tersebut telah ditetapkan serangkaian prinsip yang dijadikan landasan dalam pelaksanaan reformasi pendidikan.

Salah satu prinsip tersebut adalah bahwa pendidikan diselenggarakan sebagai proses pembudayaan dan pemberdayaan peserta didik yang berlangsung sepanjang hayat, di mana dalam proses tersebut harus ada pendidik yang memberikan keteladanan dan mampu membangun kemauan, serta mengem-bangkan potensi dan kreativitas peserta didik. Prinsip tersebut menyebabkan adanya pergeseran paradigma proses pendidikan, dari paradigma pengajaran ke paradigma pembelajaran.

Paradigma pengajaran yang telah berlangsung sejak lama lebih menitik-beratkan peran pendidik dalam mentransfer pengetahuan kepada peserta didik. Paradigma tersebut telah bergeser pada paradigma pembelajaran yang mem-berikan peran lebih banyak kepada peserta didik untuk mengembangkan potensi dan kreativitas dirinya. Dengan mengingat kebhinekaan budaya dan latar belakang peserta didik sebagai variabel masukan dalam proses pembelajaran, dan sementara itu dituntut agar pembelajaran dapat menghasilkan lulusan yang bermutu sebagai variabel hasil yang bebas, maka diperlukan proses pembelajaran sebagai variabel tergantung, yang beragam pula. Atau dengan kata lain proses pembelajaran itu harus diselenggarakan secara luwes dan bervariasi, demokratis, mendidik, memotivasi, mendorong kreativitas dan dialogis, sesuai dengan kondisi dan karakteristik peserta didik. Ketentuan perundangan tersebut sesuai dengan pendapat aliran psikologi konstruktivistik, dimana tiap pemelajar (learners), membangun diri yang sesuai dengan lingkungannya.

Pembelajaran, dalam UU Sisdiknas diartikan sebagai interaksi antara peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. Dalam konsep teknologi pendidikan sumber belajar dibedakan dalam dua kategori, yaitu pertama sumber yang sengaja dirancang dan dikembangkan seperti teknik, buku, media, sarana, dan prasarana; sedangkan kategori kedua adalah sumber yang dimanfaatkan untuk keperluan belajar, meliputi orang (sejawat dan narasumber), lingkungan sosial, dan lingkungan alam. Sehingga dengan demikian ada lima jenis interaksi yang dapat berlangsung dalam proses belajar & pembelajaran, yaitu :1) interaksi antara peserta didik dengan pendidik; 2) interaksi sesama peserta didik atau antar sejawat; 3) interaksi peserta didik dengan narasumber; 4) interaksi peserta didik bersama pendidik dengan sumber belajar yang sengaja dikembangkan; dan 5) interaksi peserta didik bersama pendidik dengan lingkungan sosial dan alam.

Suatu prinsip lain yang tercantum dalam UU Sisdiknas adalah prinsip sistem pendidikan terbuka dan multimakna. Sistem pendidikan terbuka dapat terwujud dalam berbagai bentuk termasuk belajar jarak jauh dan belajar berjaringan. Istilah dan konsep pendidikan jarak jauh selalu dimaknai dengan adanya keterpisahan antara pendidik dan peserta didik, dengan kendali tetap pada pendidik. Konsep tersebut kurang sesuai lagi dengan perkembangan misi pendidikan untuk “mem-bantu dan memfasilitasi pengembangan potensi anak bangsa secara utuh sejak usia dini sampai akhir hayat dalam rangka mewujudkan masyarakat belajar.”

Perkembangan ilmu pengetahuan yang begitu pesat, tidak memungkinkan semua orang untuk mampu menguasai isi atau materi pengetahuan tersebut. Yang diperlukan adalah kemampuan tiap orang untuk menguasai cara untuk belajar (learning how to learn) dan menguasai proses mendapatkan pengetahuan tersebut yang dapat diperoleh dari berbagai sumber yang sesuai dengan kompetensi yang ingin dikuasainya. Perkembangan teknologi telah memungkinkan tersedianya sumber-sumber tersebut dalam suatu jaringan pengetahuan (knowledge network).

Potensi Belajar Berjaringan

Kegiatan belajar dapat berlangsung dengan berbagai cara dan bentuk pengelolaan. Yang paling banyak dikenal adalah pengelolaan kegiatan belajar pada satuan pendidikan yang umumnya disebut sekolah. Belajar di sekolah dilaksanakan dengan tatap muka secara teratur antara pendidik dan peserta didik, dank arena itu dapat dimaknai sebagai belajar tradisional, atau terarah (directed) atau terikat (bounded). Tradisional karena telah berlangsung sejak ratusan tahun yang lalu, dimana selalu dituntut adanya gedung dengan ruang kelas yang dilengkapi dengan bangku dan papan tulis, guru yang bertugas mengajar, dan siswa yang dikelompokkan dalam tiap kelas dan duduk berjajar dengan rapi. Terarah karena segala sesuatu yang diajarkan atau dipelajari telah ditentukan arahnya, termasuk tujuannya, isinya, jadwalnya bahkan baju seragamnya. Terikat karena adanya aturan tertentu yang harus diikuti seperti lama waktu belajar, peryaratan kenaikan kelas, tempat duduk berjajar, dan kelulusan yang diikat dengan adanya ujian.

Mengingat makin banyaknya kebutuhan belajar, dan sementara itu lembaga yang menyelenggarakan pendidikan tradisional tidak mampu melayani berbagai kebutuhan tersebut, baik jumlah yang memerlukan serta ragam jenis kebutuhan yang dinginkan, maka berkembanglah sistem alternatif yang dikenal dengan berbagai sebutan seperti belajar sendiri (autodidact), bebas bebas (independent learning), kursus ekstensi (extension course), studi korespondensi, dan belajar jarak jauh (distance learning). Belajar sendiri dan bebas, memungkinkan seseorang untuk berkembang sendiri sesuai dengan keinginan dan kebutuhanyang dirasakan. Belum tentu apa yang mereka kuasai melalu belajar sendiri dan bebas tersebut mendapat pengakuan atau penghargaan dari masyarakat. Sementara belajar melalui kursus ekstensi, korespondensi dan jarak jauh selalu mengartikan adanya pendidik (guru, instruktur,dosen) yang mengendalikan kegiatan belajar secara fisik terpisah dari peserta didik. Pendidik itu menentukan bahan yang harus dipelajari (berupa modul atau paket pembelajaran), serta berbagai persyaratan lain seperti ujian, praktikum dsb.

Perkembangan terkini dalam sistem pendidikan adalah belajar dengan menerapkan berbagai macam interaksi yang terbentuk dalam suatu jaringan belajar. Atau lebih mudah disebut belajar bejaringan. Ada tiga konsep dasar yang melatarbelakangi perkembangan konsep belajar berjaringan ini. Pertama, konsep globalisasi, dimana dituntut agar kita menyadari bahwa lingkungan kita sebagai lingkungan global seperti misalnya pelestarian alam, hak azasi manusia dll.. Dalam lingkungan global itu diperlukan adanya interkoneksi yang semakin luas, terutama karena ditunjang dengan kemajuan teknologi informasi dan komunikaksi yang telah bersinergi. Interkoneksi tersebut berarti makin banyak dan luasnya cakupan kegiatan kita : apa yang kita lakukan secara lokal perlu disesuaikan dengan perspektif nasional dan global. Kecuali itu globalisasi juga meningkatkan saling kebergantungan kita baik dalam perkembangan social budaya maupun dalam kemajuan teknologi.

Latar belakang kedua, adalah bahwa belajar itu pada hakekatnya merupakan bagian terpenting dari proses sosial. Belajar merupakan kegiatan interaksi yang termediasi dalam lingkungan sosial; perkembangan kemampuan setiap orang baik meliputi aspek kognitif, afektif dan psikomotor, berlangsung melalui interaksi dalam lingkungan sosial; kegiatan belajar yang bermakna adalah yang diakui oleh lingkungan sosial; perkembangan lingkungan – termasuk perkembangan teknologi informasi dan komunikasi – telah memungkinkan interaksi sosial yang meluas dan beragam. Dengan demikian kegiatan belajar itu interaksi antara pemelajar (learner) dengan dengan sesama warga belajar, interaksi dengan guru/dosen/instruktur, interaksi dengan kelompok, interaksi dengan isi ajaran, dan interaksi dengan berbagai sumber belajar lain termasuk narasumber dan program.

Sedangkan latar belakang ketiga, adalah pengakuan bahwa tiap orang harus memperoleh kesempatan untuk membangun potensi dirinya semaksimal mungkin. Ditinjau dari perspektif psikologis, pengakuan ini merupakan pendekatan psikologi konstruktivistik, dimana tiap orang akan membangun pengetahuan, sikap dan keterampilan sendiri setelah mencernakkan apa yang diperoleh dan dialami. Tentu saja pembangunan potensi tersebut harus bertolak dari kondisi dan karakteristik masing-masing warga belajar, serta berpegangan pada nilai-nilai yang berlaku dalam masayarakat, bangsa dan Negara.

Berbeda dengan belajar sendiri dan bebas, dalam sistem belajar berjaringan ada bantuan pembelajaran interaktif atau digunakan istilah baru yaitu perancah (scaffold). Perancah ini dibangun oleh pengelola kegiatan belajar sesuai dengan kebutuhan; makin tinggi tujuan belajar yang perlu dikuasai, makin tinggi perancah belajar yang dibangun. Perancah ini dibangun berdasarkan identifikasi karakteristik pemelajar yang dijadikan sasaran atau subyek, identifikasi kebutuhan, kondisi lingkungan dan sifat ajaran. Seperti halnya perancah untuk pembangunan gedung, perlu diketahui apa kegunaan gedung tersebut, siapa yang akan menggunakan, dimana lokasinya, kondisi lingkungannya bagaimana, dan apa fungsi masing-masing komponen yang digunakan dalam pembangunan gedung tersebut. Makin tinggi gedung dibangun, makin tinggi pula perancah yang harus dibangun.

Kegiatan selanjutnya menjadi tanggung jawab pelaksana kegiatan (misalnya pemborong bangunan, atau penyelenggara kegiatan belajar – bisa jadi Unit Diklat di Daerah atau Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat/PKBM), namun tetap dengan pembinaan dan pengawasan dari pengembang perancah. Kendali dari pusat adalah dalam membangun perancah, menetapkan berbagai ketentuan keikut-sertaaan, menentukan kriteria keberhasilan belajar, dan menyediakan anggaran yang diperlukan. Proses selanjutnya didelegasikan atau menjadi tanggung jawab dari pemelajar sendiri dengan dukungan dan pengawasan dari unit/lembaga yang ada di daerah domisili pemelajar.

Inti dari belajar berjaringan adalah terjadinya interaksi antara pendidik dan peserta didik, sesama peserta didik, peserta didik dengan berbagai sumber belajar lain, dan peserta didik dengan lingkungannya. Interaksi sesama peserta didik tidak hanya terbatas dalam satu lingkup kelas atau sekolah, melainkan juga peserta didik antar sekolah, bahkan antar Negara. Sumber belajar lain tidak hanya terbatas yang ditentukan oleh guru atau sekolah atau dinas atau pemerintah pusat, melainkan yang dipilih dan diusahakan sendiri oleh peserta didik sesuai dengan tugas belajar yang diembannya. Sumber itu dapat berasal dari dunia nyata (real world) atau dari dunia maya (virtual world).

Pelaksanaan belajar berjaringan adalah bila peserta didik menguasai berbagai kemampuan tertentu, dan menjalin kerjasama kolaboratif dengan kelompok kecil, kelompok besar dan bahkan kelompok maya. Persyaratan peserta didik adalah : mampu mengarahkan diri, disiplin, mandiri, bertanggung jawab, proaktif, mahir berkomunikasi secara tertulis, menguasai penggunaan teknologi informasi dan komunikasi yang ada, dan terbuka untuk menghargai pendapat orang lain dan bersedia mengadakan perubahan pada diri maupun lingkungannya. Dengan demikian belajar berjaringan dapat juga terlaksana di sekolah, namun memerlukan perubahan peran pendidik. Pendidik harus bertindak sebagai pemerancah, sumber, ko-partisipan dalam belajar, moderator, fasilitator, motivator, pengelola kegiatan belajar, dan penasehat.

Dukungan TIK

Belajar berjaringan memang memerlukan dukungan teknologi informasi dan komunikasi (TIK/CIT). Teknologi komunikasi dan informasi sebagai suatu produk dan proses telah berkembang sedemikian rupa sehingga mempengaruhi segenap kehidupan kita dalam berbagai bentuk aplikasi. Eric Ashby berpendapat bahwa teknologi komunikasi telah menyebabkan terjadinya revolusi keempat dalam dunia pendidikan. Revolusi pertama terjadi dengan adanya tenaga fungsional guru yang memperoleh kewenangan dari orangtua untuk mendidik anak-anak mereka. Revolusi kedua timbul dengan ditemukannya bahasa tulis, karena sebelumnya pendidikan mengandalkan bahasa lisan dan tubuh. Revolusi ketiga timbul dengan ditemukannya teknik pencetakan, yang memungkinkan bahan belajar tersedia banyak dan menyebar. Sekarang perlu ditambahkan revolusi kelima dengan ditemukannya sistem informasi digital.

Sejalan dengan pendapat Ashby, Alvin Toffler (1980) menggambarkan perkembangan masyarakat sebagai revolusi yang berlangsung dalam tiga gelombang. Gelombang pertama timbul dalam bentuk teknologi pertanian; gelombang kedua ditandai dengan adanya teknologi industri; dan gelombang ketiga merupakan revolusi teknologi elektronik dan informatik. Teknologi terakhir ini mendorong tumbuhnya “telecommunity”.

Berdasarkan pengkajian Komisi PBB Untuk Pembangunan Pengetahuan dan Teknologi (United Nations Commission on Science and Technology for Development /UNCSTD) pada tahun 1998, integrasi antara teknologi informasi dan komunikasi secara positif mempengaruhi pembangunan di semua sektor. Oleh karena itu disarankan agar semua negara angota PBB memanfaatkan potensi TIK secara produktif, agar menuju tercapainya masyarakat berpengetahuan (knowledge society). Masyarakat berpengetahuan sendiri dirumuskan sebagai masyarakat dimana semua anggotanya berpartisipasi aktif dalam proses pembangunan, dengan terlebih dahulu memiliki keterampilan dasar yang diperlukan dan memperoleh semua informasi yang diperlukan.

Berdasarkan laporan UNSCTD tersebut ada lima issu utama yang diperlukan dalam membangun masyarakat berpengetahuan. Issu pertama adalah peran pemerintah dalam menentukan peraturan perundangan, tatakelola, dan kebijakan. Peran tersebut meliputi misalnya UU Penyiaran, UU Telekomunikasi, tatakelola frekuensi, dan koordinasi pengembangan dan pendayagunaan melalui DeTIKNas. Issu kedua adalah kesediaan warga masyarakat untuk berpartisipasi dalam proses pembangunan secara proaktif, seperti misalnya ikutserta dalam memelihara lingkungan. Issu ketiga adalah kemampuan dasar yang perlu dikuasai oleh warga masyarakat, termasuk kemampuan baca, tulis, hitung, serta kemampuan untuk mengubah budaya komunikasi yang semula hanya menerima informasi menjadi sumber informasi. Issu keempat adalah akses terhadap informasi, termasuk kemampuan untuk memperoleh informasi dari perpustakaan, siaran radio, telepon dsb.

Sementara itu issu kelima adalah tugas dunia usaha dan industri yaitu untuk mengembangkan sarana dan prasarana TIK. Kofi Annan – Sekjen PBB pada waktu itu – menyatakan bahwa biaya untuk penembangan TIK bagi pembangunan memang mahal, tetapi akibatnya akan lebih mahal lagi kalau kita memanfaatkan potensi TIK tersebut guna memicu pembangunan. Meskipun demikian UNSCTD dalam laporannya juga menyatakan bahwa para warga masyarakat seyogyanya menghilangkan mitos bahwa TI merupakan segalanya (demistify information technologies is key).

Jelaslah bahwa betapapun canggihnya teknologi, semuanya terpulang pada kesiapan orang atau SDMnya, termasuk guru, siswa, dan para penyedia jasa layanan TIK yang harus mampu mengenali kebutuhan para pelanggan yang dilayani. Oleh karena itu manusianya perlu ditangani terlebih dahulu, baru sarana dan prasarananya disediakan.

Daftar Pustaka

  • Ashby, Eric. The Fourth Revolution: Instructional Technology in Higher Education. New York: McGraw Hill Book Co. 1972
  • Toffler, Alvin. The Third Wave. London : Pan Books Ltd. 1980
  • UNSCTD. Knowledge Society. Published for and on behalf of The Unted Nations. Oxford,NY : Oxford University Press. 1998

Posted 23 Feb 2012 08:36 PM by admin in Prof. Dr. Yusufhadi Miarso, M.Sc


Download Attachment :
Pengertiaan Komputer Dan Internet3.doc
Cover_1.doc
Pertemuan I Kewarganegaraan.doc
Makalah Dunia Maya.pdf
Pembahasan Soal Snmptn 2010 Fisika Kode 548.pdf

Recent Post

  • Hakikat Dan Perkembangan
    Hakikat Dan Perkembangan Motorik Anak Usia Dini - Motorik adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan gerakan-gerakan tubuh. Secara ...
  • Bagaimana Anak Usia
    Bagaimana Anak Usia Dini Belajar - Belajar dapat didefinisikan sebagai perubahan tingkah laku yang terjadi akibat ...
  • Jenis-jenis Asesmen Autentik
    Jenis-jenis Asesmen Autentik - Dalam rangka melaksanakan asesmen autentik yang baik, guru harus memahami ...
  • Asesmen Autentik dan
    Asesmen Autentik dan Belajar Autentik - Asesmen Autentik menicayakan proses belajar yang Autentik pula. Menurut Ormiston ...
  • Asesmen Autentik dan
    Asesmen Autentik dan Tuntutan Kurikulum 2013 - Asesmen autentik memiliki relevansi kuat terhadap pendekatan ilmiah dalam pembelajaran ...
  • Definsi dan Makna
    Definsi dan Makna Asesmen Autentik - Asesmen autentik adalah pengukuran yang bermakna secara signifikan atas hasil ...
  • Landasan Kurikulum 2013
    Landasan Kurikulum 2013 - Kurikulum 2013 dikembangkan berdasarkan ketentuan yuridis yang mewajibkan adanya pengembangan ...
  • Perkembangan Kognitif dan
    Perkembangan Kognitif dan Kemampuan Calistung (Baca-Tulis-Hitung) - NAEYC (National Association for the Education of Young Children) memberikan ...
  • Tahap Perkembangan Kognitif
    Tahap Perkembangan Kognitif anak usia dini (lahir-8 tahun) menurut Piaget - Tahap Sensorimotor (lahir-18 bulan) Pada tahap ini, bayi hanya bergantung ...
  • Tahapan kognitif Anak
    Tahapan kognitif Anak - Kognisi adalah proses dan produk yang terjadi dalam otak sehingga ...
  • Model Pembelajaran Reggio
    Model Pembelajaran Reggio Emilia - Model pembelajaran Reggio Emilia merupakan contoh model ...
  • Model Pembelajaran Montessori
    Model Pembelajaran Montessori - Model pembelajaran Montessori mengacu pada pembelajaran yang dikembangkan Maria Montessori, ...
  • Model pembelajaran Bermain
    Model pembelajaran Bermain Kreatif - Model pembelajaran bermain kreatif mulai dikembangkan pada tahun 1985 di ...
  • Model Pembelajaran High/scope
    Model Pembelajaran High/scope - Pendekatan high scope pada awalnya dikembangkan untuk anak anak luar ...
  • Hakikat Permainan Teka
    Hakikat Permainan Teka Teki - Pada hakikatnya permainan adalah suatu kegiatan yang dilaksanakan oleh individu ...




Checkpagerank.net