RSS

..: Teknologi Pendidikan Universitas Negeri Surabaya :..

Peranan Bahasa, Statistika, Dan Matematika dalam ilmu pengetahuan

Bahasa memiliki tugas yang paling penting yaitu memberikan kejelasan hubungan antara berpikir dan berbicara, antara fungsi ekspresif dan representatif  bahasa;
Menjelaskan kondisi-kondisi psikofisik dari ucapan, peranan individu dan komunitas dalam perkembangan sebuah bahasa, hubungan antara tipe-tipe bahasa umum dan struktur bahasa khusus; menyelidiki sumber-sumber pertama sebuah bahasa dan hasil baru yang ada sekarang dari bahasa itu pada anak kecil dan usaha-usaha lebih lanjut.
Pandangan-pandangan pada filsafat bahasa berbeda terutama atas masalah hubungan antara yang dipikirkan dan yang diucapkan. Sementara filsafat bahasa yang lebih tua sepakat dalam mengakui kemandirian dan prioritas pikiran atas ucapan, tetapi tidak sepakat dalam menjelaskannya ( misalnya, bahasa sebagai sesuatu disebabkan oleh pikiran untuk maksud berkomunikasi; arah empirik; bahasa sebagai penampilan yang adekuat penuh dari pikiran; arah idealistik ), beberapa pemikir modern melihat pikiran diserap oleh ucapan ( G.Ipsen ) atau muncul dari ucapan ( Stenzel ). Analisis konseptual bahasa dalam semua dimensinya dapat dilihat dari masalah semantik.
Jadi dengan bahasa bukan saja manusia dapat berpikir secara teratur namun juga dapat mengkomunikasikan apa yang sedang dia pikirkan kepada orang lain. Namun bukan itu saja, dengan bahasa kita pun dapat mengekspresikan sikap dan perasaan kita. Seorang bayi bila dia sudah kenyang dan hatinya pun sangat senang, dia mulai membuka suara. Tidak terlalu enak memang, tetapi tidak apa, sebab kalau dia mulai besar kelak dan sudah belajar do-re-mi-fa-sol, bunyi yang dihasilkannya mungkin jauh lebih menyenangkan. Lewat seni suara dia akan mengekspresikan perasaanya, kedukaan, dan kesukaan lewat liku nada kata-kata. Seorang yang berbakat sastra mungkin akan mengekspresikan perasaannya denagn cara lain, menulis novel yang tebal mencakup puluhan ribu kalimat atau menulis puisi yang terdiri dari beberapa bait. Dengan adanya bahasa maka manusia hidup dalam dunia yakni dunia pangalaman yang nyata dan dunia simbolik yang dinyatakan dengan bahasa.
Statistika , statik adalah istilah yang dapat diterapkan pada segala sesuatu yang berkaitan dengan keadaan diam. Apa yang statik ditemukan hanya secara aksidental dalam tatanan yang dapat berubah sejauh suatu hal tidak bergerak dan tidak berubah untuk sementara. Namun, dalam tata hubungan-hubungan hakiki yang tidak dapat berubah adalah unsur statik hakiki.
Statistika juga memberikan kemampuan kepada kita untuk mengetahui apakah suatu hubungan kausalita antara dua faktor atau lebih bersifat kebetulan atau lebih bersifat kebetulan atau memang benar-benar terkait dalam suatu hubungan yang bersifat empiris. Umpamanya saja kita melakukan pemukukan terhadap sejumlah rumpun padi. Berdasarkan teori yang hipotesisnya sedang kita kaji maka secara logis batang padi yang dipupuk seharusnya bertambah tinggi. Namun bila kita teliti batang padi yang tidak dipupuk maka mungkin saja beberapa batang diantaranya juga akan bertambah tinggi disebabkan oleh hal-hal di luar pemukukan tersebut. Hal ini bisa disebabkan oleh kesuburan tanah yang ditumbuhi batang tersebut agak berlainan dengan tanah sekitarnnya, atau mungkin juga batang padi tersebut mempunyai kataretistik genetik tersendiri meskipun berasal dari species yang sama dengan rumpun padi lainnya, atau mungkin juga disebabkan berbagai-bagai hal lainnya yang berada di luar hubungan kausalita antara tinggi batang padi dan pemukukan. Atau dengan perkataan lain, bisa saja terjadi bahwa hubungan antara tinggi batang padi dengan pemukukan tersebut hanya terjadi secara kebetulan saja. Pengamatan secara sepintas lalu sering memberikan kesan kepada kita terdapatnya suatu hubungan kausalita antara beberapa faktor, dimana kalau kita teliti lebih lanjut ternyata hanya bersifat kebetulan. Jadi dalam hal ini statistika berfungsi meningkatkan ketelitian pengamatan kita dalam menarik kesimpulan dengan jalan menghindarkan hubungan semu yang bersifat kebetulan.
Matematika ; matematika merupakan suatu ilmu tentang bilangan ( aritmetika / ilmu hitung) dan ilmu ruang (geometri ). Sudah sejak zaman yunani kuno, matematika berhubungan erat dengan filsafat. Segera setelah konsep-konsep tentang hal yang tak terbatas ( to apeiron ) dan hal yang berlangsung terus  ( synneches ) tampil dalam matematika Yunani, konsep-konsep itumenumbuhkan suatu refleksi filosofis yang mendalam ( misalnya, antinomi-antinomi dari Zeno ).
Kaum Pythagorean mempertahankan pendapat bahwa bilangan merupakan prinsip benda. Dan mereka menemukan kuantitas-kuantitas yang tak dapat diukur, yaitu kuantitas-kuantitas yang tidak dapat dilukiskan sebagai suatu hubungan dari dua bilangan bulat. Dikalangan orang-orang Yunani, ditemukannya kuantitas-kuantitas ini menyebabkan geometri unggul atas aritmetika. Sifat tak dapat diukur ini juga merupakan alasan mengapa Plato mempertahankan bahwa objek-objek geometri bukan bilangan-bilangan “Yang dapat dilihat secara inderawi”, melainkan bilangan-bilangan yang “dapat dipersepsi secara rohani” ( Republic, 510 D ). Mengikuti uraian Aristoteles ( Metaphysics I, 6: 987 b 14 ) Plato mengaidaikan bahwa entitas-entitas matematik mempunyai bentuk eksistensi antara, yakni antara benda-benda inderawi dan ide-ide. Dalam dialog Euthydemus (290B), Plato mempertahankan tesus bahwa para ahli geometri dan ahli aritmetika menemukan objeknya sudah ada ( sebagaimana pemburu menemukan mangsanya ) ---- mereka tidak menghasilkan objek tersebut ( melawan kaum sofis ).
Aristoteles menolak pemisahan entitas-entitas matematik dari hal-hal indrawi (Metaphysics III, 2: 297 a 34 ;  XIII, 2: 1076 b 11). Dan dalam physics, dia mengusulkan suatu pemecahan masalah ketakterbatasan dan kontinum matematik. Dia mendefinisikan ketakterbatasan ini sebagai ketakterbatasan yang tak terbatas secara potensial ( dynamei aperion ). Dan dia menjelaskannya sebagai berikut: “ karena secara umum hal yang tak teerbatas mempunyai  bentuk  eksistensi ini: satu benda selalu mirip dengan benda lainnya dan setiap benda yang diserupai selalu terbatas, tetapi selalu berbeda “ ( 206 a 27 ). Dengan perkataan lain, ketakterbatasan merupakan soal “ struktur dan sebaagainya “ dari kegiatan matematik ( menghitung dan membagi ). Aristoteles mendefinisikan continuum dengan mengatakan bahwa “ segala sesuatu yang bersambungan dapat dibagi ke dalam hal-hal yang dapat dibagi, yang dapat dibagi secara tak terbatas “, (231 b 15) atau “ hal yang bersambungan dapat dibagi ad infinitum (secara tak terbatas) “ (185 b 10). Pandangan ini menyampingkan, misalnya, “waktu” yang tersusun dari “saat-saat sekarang” dan suatu garis yang tersusun dari titik-titik; dan ia sama sekali menghilangkan kemungkinan membagi gerakan ke dalam bagian-bagian elementer yang sendiri bukan gerakan.
Paham Aristoteles tentang kontinuum dan ketakterbatasan merupakan cirri umum dari semua ahli matematika sampai dengan masa Georg Cantor ( 1845 – 1918 . Cantor menentang konsepsi tradisional dengan teori himpunan (set theory), dimana dia mengandaikan eksistensi dari kumpulan-kumpulan yang tak terbatas secara aktual. Pada akar teori Cantor terletak suatu konsepsi matematika yang mengatakan bahwa matematika berurusan dengan “ objek-objek dari suatu jenis ideal “ dan objek-objek ini dianggap sudah ada sebelum pengetahuan manusia. Pandangan ini terkait dengan ajaran Plato dan lebih-lebih dengan Platonisme histories. Belakangan ini, teori himpunan malah dicirikan sebagai Platonisme (atau konsepsi matematika ontologis).
Sejumlah besar matematika masih mempertahankan pandangan ini. Akan tetapi, L.E.J Brouwer (sejak tahun 1907) secara tajam mengeritik teori himpunan dari Cantor dan gagasannya tentang matematika. Brouwer menemukan hakikat matematika dalam kerja ( menghitung; “intuisi tentang rangkaian bilangan yang alami” ), bukan dalam suatu teori tentang objek-objek dari satu atau lain jenis ( “matematika lebih merupakan kerja daripada teori” ). Karena programnya ditujukan pertama-tama untuk menghancurkan sebagian besar matematika modern, akibatnya ialah suatu krisis terhadap landasan-landasan matematika.
Dewasa ini berbagai gerakan konstruktif ( meneruskan intuisionisme Brouwer ) yang menyangkut landasan-landasan matematika, menawarkan jalan keluar yang sangat memuaskan darin krisis tersebut; matematika operatif dari A. Heyting, H. Weh. P. Lorenzen formalisme konstruktif dari R.L Goodstein ( yang diilhami oleh Markov dsb ). Pada dasarnya, gerakan-gerakan ini mengisyaratkan kembali pandangan Aristoteles tentang continuum dan ketakterbatasan. Berbagai gerakan aksiomatik ( logisisme dari Frege dan Russel; aliran formalistic dari Hilbert ) pada hakikatnya memberi sumbangan kepada penjelasan / klasifikasi problematic logis dari matematika dan demikian pula bagi perkembangan logika matematik.
Dalam bidang geometri, abad ke-19 menyaksikan pembentukan geometri-geometri non-euclidian ( Lobatschewski  [1829], Bolyai, Riemann, Gauss ). Kaitan logis di dalam sistem-sistem ini sendiri dan dengan geometri Euklides secara luas dijelaskan dengan geometri proyektif ( F.Klein ). Geometri-geometri ini mempunyai banyak aplikasi dalam fisika modern. Karya-karya tentang landasan-landasan geometri yang ditulis dari sudut pandangan aksiomatik memiliki arti yang kurang penting bagi filsafat matematika.

Posted 21 Jun 2011 04:33 PM by admin in Proses Dan Syarat-Syarat Ilmiah


Download Attachment :
Jawa4.doc
Penggunaan Integral Tentu Pertemuan 3.pdf
Bahasa Indonesia 4.pdf
The Effectiveness Of Mobile Technology In A University E Learning Environment.pdf
Sap Matematika Bisnis8.doc

Recent Post

  • Hakikat Dan Perkembangan
    Hakikat Dan Perkembangan Motorik Anak Usia Dini - Motorik adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan gerakan-gerakan tubuh. Secara ...
  • Bagaimana Anak Usia
    Bagaimana Anak Usia Dini Belajar - Belajar dapat didefinisikan sebagai perubahan tingkah laku yang terjadi akibat ...
  • Jenis-jenis Asesmen Autentik
    Jenis-jenis Asesmen Autentik - Dalam rangka melaksanakan asesmen autentik yang baik, guru harus memahami ...
  • Asesmen Autentik dan
    Asesmen Autentik dan Belajar Autentik - Asesmen Autentik menicayakan proses belajar yang Autentik pula. Menurut Ormiston ...
  • Asesmen Autentik dan
    Asesmen Autentik dan Tuntutan Kurikulum 2013 - Asesmen autentik memiliki relevansi kuat terhadap pendekatan ilmiah dalam pembelajaran ...
  • Definsi dan Makna
    Definsi dan Makna Asesmen Autentik - Asesmen autentik adalah pengukuran yang bermakna secara signifikan atas hasil ...
  • Landasan Kurikulum 2013
    Landasan Kurikulum 2013 - Kurikulum 2013 dikembangkan berdasarkan ketentuan yuridis yang mewajibkan adanya pengembangan ...
  • Perkembangan Kognitif dan
    Perkembangan Kognitif dan Kemampuan Calistung (Baca-Tulis-Hitung) - NAEYC (National Association for the Education of Young Children) memberikan ...
  • Tahap Perkembangan Kognitif
    Tahap Perkembangan Kognitif anak usia dini (lahir-8 tahun) menurut Piaget - Tahap Sensorimotor (lahir-18 bulan) Pada tahap ini, bayi hanya bergantung ...
  • Tahapan kognitif Anak
    Tahapan kognitif Anak - Kognisi adalah proses dan produk yang terjadi dalam otak sehingga ...
  • Model Pembelajaran Reggio
    Model Pembelajaran Reggio Emilia - Model pembelajaran Reggio Emilia merupakan contoh model ...
  • Model Pembelajaran Montessori
    Model Pembelajaran Montessori - Model pembelajaran Montessori mengacu pada pembelajaran yang dikembangkan Maria Montessori, ...
  • Model pembelajaran Bermain
    Model pembelajaran Bermain Kreatif - Model pembelajaran bermain kreatif mulai dikembangkan pada tahun 1985 di ...
  • Model Pembelajaran High/scope
    Model Pembelajaran High/scope - Pendekatan high scope pada awalnya dikembangkan untuk anak anak luar ...
  • Hakikat Permainan Teka
    Hakikat Permainan Teka Teki - Pada hakikatnya permainan adalah suatu kegiatan yang dilaksanakan oleh individu ...




Checkpagerank.net