RSS

..: Teknologi Pendidikan Universitas Negeri Surabaya :..

Pola Diskusi dan Tingkat Interaksi Mahasiswa Dalam Pembelajaran Online

Munzil *
ABSTRAK: Kemajuan teknologi informasi dan komunikasi membawa dampak pada semua kehidupan manusia, termasuk juga terhadap dunia pendidikan. Lahirnya komputer dan berkembangnya dunia internet sebagai sarana interaksi antar manusia, membawa dampak pada perkembangan sistem pembelajaran pada semua jenjang. Kemajuan fenomenal adalah dengan lahirnya pembelajaran online yang sering dikenal sebagai e-learning. Penggunaan pembelajaran online telah berkembang pesat pada beberapa perguruan tinggi di negara maju, termasuk juga dalam bidang penelitian pembelajaran online. Salah satu keunggulan pembelajaran online adalah adanya forum diskusi yang dapat digunakan sebagai saran interaksi antara mahasiswa dengan dosen maupun antara mahasiswa dengan sesame mahasiswa dalam membahas materi perkuliaahan.Penelitian ini dilakukan terhadap mahasiswa 55 mahasiswa yang sedang menempuh matakuliah aplikasi komputer melalui pembelajaran online pada jurusan Teknologi Pembelajaran Universitas Negeri Malang. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dan kualitatif. Pendekatan kuantitatif digunakan untuk mengetahui tingkat interaksi mahasiswa dalam forum diskusi, sedangkan pendekatan kualitatif digunakan untuk mengetahui pola diskusi dan mendapatkan gambaran yang lebih mendalam tentang apa dan bagaimana interaksi mahasiswa dalam diskusi pada pembelajaran online.Hasil penelitian menunjukan pada forum diskusi antara mahasiswa dengan dosen dan antar sesama mahasiswa ditemukan tiga pola, yaitu: 1) pola tertutup, 2) pola semi tertutup, dan 3) pola terbuka. Pada pola tertutup dosen memberikan topik utama dan sub topik yang harus dibahas dalam diskusi, pada pola semi terbuka, dosen memberi topik utama saja, sedangkan sub topik diberikan pada mahasiswa, dan pada pola terbuka, dosen hanya memberi gambaran umum tentang topik yang dibahas, setelah itu mahasiswa sendiri yang menentukan topik dan sub topik. Tingkat interaksi pada masing-masing pola diskusi dari yang paling tinggi adalah, pola tertutup, kemudian terbuka, dan terakhir pola semi terbuka. Mahasiswa selalu merasa tertantang untuk selalu berpartisipasi aktif dalam forum diskusi, jika pendapat atau pertanyaan yang diajukan banyak mendapat tanggapan, baik dari dosen maupun dari mahasiswa. Ditemukan juga adanya rasa kepuasan mahasiswa dalam diskusi online, mereka merasa memiliki kebebasan untuk berpartipasi dalam forum diskusi tanpa ada hambatan psikologis. Efek samping yang dirasakan mahasiswa selama pembelajaran online adalah kemampuan mahasiswa untuk menelusuri bahan pustaka untuk kepentingan pembelajaran matakuliah yang lain, kemampuan mahasiswa untuk mengemukakan pendapat tanpa merasa malu, karena merasa tidak bertatap muka langsung dengan dosen dan sesama teman mahasiswa.Pendahuluan
Dewasa ini, seiring dengan kemajuan teknologi informasi dan komunikasi membawa dampak pada pola kehidupan manusia dalam segala bidang, tidak terkecuali dalam bidang pendidikan. Dalam dunia pendidikan, istilah sekolah tidak lagi hanya mengacu pada definisi sekolah konvensional yang bersifat klasikal, tetapi sudah mulai dikenal dengan istilah sekolah digital (Rose, 2002), cyber school (Davidson, 2006), distance education atau online learning yang telah banyak dikemukakan oleh beberapa ahli. Pengertian kelas konvesional selalu mengacu pada pertemuan secara langsung antara pebelajar dengan pengajar dalam suatu kelas, dan interaksi yang terjadi dalam proses pembelajaran terjadi secara langsung. Sedangkan dalam pengertian kelas menurut sekolah digital, cyber school, distance education maupun online learning, memiliki makna yang lebih luas lagi. Proses belajar dapat terjadi dimana saja dengan memanfaatkan kemajuan teknologi, interaksi dan komunikasi antara pebelajar dengan lingkungan belajar dapat dilakukan secara langsung (synchronous) atau pun tidak langsung (asynchronous) (Robert,2004; Holmes, 2005; Gayle,2006).
Dampak dari kemajuan teknologi informasi dan komunikasi tersebut akan membawa implikasi pada penyesuaian atau perubahan proses pembelajaran, model dan pendekatan pembelajaran. Istilah baru yang dikenalkan dalam desain pembelajaran dengan mengakomudasi kemajuan teknologi informasi adalah Web Based Instructional Design yang disingkat dengan WBID (Gayle ,2006). WBID mengkaji lima hal pokok, yaitu Learning Theories, System Theories, Communication Theories, ID Models dan Distance Education. Kelima hal tersebut dikolaborasi untuk menghasilkan desain web yang dapat digunakan untuk proses pembelajaran, yang memenuhi kaedah-kaedah pembelajaran dan dapat mengakomudir karakteristik pebelajar (Gayle, 2006). Perkembangan tersebut membawa dapat pada dunia penelitian pembelajaran khusunya pembelajaran yang berbasis online. Jurnal-jurnal internasional tentang pembelajaran online berkembang cukup pesat, rata-rata mencapai kenaikan 20 43 persen tiap tahun (Henke dan Rusman, 2000, Terry, 2003). Penelitian yang dilakukan pada umumnya berada pada lima ranah yang dikembangkan dalam WBID. Penelitian yang dilakukan ada yang bersifat kuantitatif dan ada pula yang bersifat kualititif. Sampai saat ini penelitian yang bersifat kuantitatif masih dominan, sedangkan yang bersifat kualititatif dan penggabungan antara kuantitatif dan kualitatif masih sangat kurang (Charles, 2006).
Penggunaan sistem pembelajaran online di Indonesia masih sangat relatif baru, namun demikian pada sisi yang lain tuntutan adanya sistem pembelajaran online cukup marak pada tingkatan perguruan tinggi. Kebijakan pemerintahpun mendorong tersedianya pembelajaran online di perguruan tinggi. Pada sisi yang lain kemampuan SDM baik sebagai pengelola konten dan pengelola sistem pembelajaran masih sangat minim. Akibat kebijakan tersebut, banyak perguruan tinggi di Indonesia hanya memakai software yang sudah tersedia untuk sistem pembelajarannya. Kondisi yang sangat memperihatinkan, penulis banyak menemukan sistem pembelajaran online yang hanya menampilkan materi pelajaran dalam bentuk website agar bisa diakses oleh mahasiswa, tanpa memperhatikan bagaimana sistem pembelajarannya yang akan dilaksanakan. Bahkan sistem pembelajaran online diterapkan tanpa memperhatikan karakter mahasiswanya, sehingga desain pembelajarannya bersifat umum untuk semua mahasiswa. Kesuksesan pembelajaran sangat ditentukan oleh karakteristik pebelajar, sajian materi (linier maupun non linier), tugas-tugas yang diberikan dan interaksi antara pebelajar dengan sumber belajar (Dicks, 2005). Karakterisitik pebelajar yang harus menjadi perhatian dalam penerapan sistem pembelajaran online diantaranya adalah: gender, gaya belajar, self-efficacy, usia, dan pola interaksi (Mogulas, 2006).
Pembelajaran online menuntut adanya desain pembelajaran yang benar, sehingga memungkinkan terjadinya proses belajar. Desain pembelajaran yang dimaksud diantaranya meliputi pengaturan materi bahan ajar dan pengaturan proses pembelajaran secara online (Duffy, 2004) . Kedua hal tersebut secara teknis dilakukan oleh oleh dosen atau administrator. Desain pembelajaran berbasis web yang berpusat pada pebelajar (learner centered), selalu mengacu pada kepentingan belajar pebelajar, dalam artian bahwa desain pembelajarannya harus mampu mengakomodir karakteristik pebelajar (Andersen, 2003).
Dari beberapa penelitian yang dilakukan para ahli dalam pembelajaran online, karakteristik pebelajar yang harus diperhatikan adalah: budaya, gender, self-efficacy, gaya belajar, motivasi berprestasi dan tujuan belajar yang ada dalam diri pebelajar (Rovai, 2003; Slykhuis, 2006; Kozalka;2004). Dalam kontek pebelajar di Indonesia, pembelajaran online sampai saat ini masih relatif sangat baru, sehingga perlu dilakukan kajian yang mendalam terhdap karakteristik pebelajar tersebut.
Salah satu keunggulan dalam sistem pembelajaran online adalah adanya fitur forum diskusi yang dapat digunakan sebagai sarana interaksi antara mahasiswa dengan dosen maupun mahasiswa dengan sesama mahasiswa dalam membahas materi perkuliahan. Namun demikian, dosen perlu merancang dengan baik tentang pola diskusi yang akan digunakan dalam pembelajaran online, sehingga memungkinkan semua mahasiswa dapat terlibat secara aktif dalam forum diskusi tersebut. Keberadaan dosen dalam forum diskusi sangat diperlukan sebagai fasilitator, untuk mengarahkan dan membangkitkan kaeaktifan mahasiswa dalam forum diskusi.
Metode Penelitian
Penelitian ini tidak dimaksudkan untuk memberi perlakuan pada mahasiswa yang diteliti, tetapi hanya mengamati pola diskusi dan tingkat interaksi mahasiswa dalam pembelajaran online. Pendekatan kualitatif digunakan untuk mengetahui tentang pola diskusi yang berlangsung selama perkuliahan online, melalui pengamatan terhadap transkrip diskusi yang terekam dalam komputer server. Pendekatan kualitatif juga digunakan untuk mengetahui apa dan bagaimana yang dialami mahasiswa selama diskusi berlangsung, melalui wawancara terhadap responden. Sedangkan pendekatan kuantitatif digunakan untuk mengetahui tingkat interaksi mahasiswa dalam forum diskusi. Data interaksi mahasiswa selama diskusi terekam dengan baik dalam komputer server.
Hasil Penelitian
Dalam pembelajaran online, fitur forum digunakan sebagai sarana interaksi bersama antara mahasiswa dengan dosen, dan mahasiswa dengan mahasiswa. Interaksi yang terjadi ditandai dengan tulisan mahasiswa atau dosen selama diskusi online berlangsung. Tulisan-tulisan tersebut tersimpan dalam komputer server, dan bisa dibaca setiap saat oleh mahasiswa. Keberadaan rekaman tulisan-tulisan mahasiswa dan dosen tersebut sangat membantu jalannya diskusi online, karena sebelum mahasiswa atau dosen masuk dalam forum diskusi online, terlebih dahulu akan membaca rekaman diskusi sebelumnya, sehingga tidak terjadi tumpang tindih pendapat atau pertanyaan.
Peneliti memandang perlu untuk mengkaji lebih jauh tentang pola diskusi yang berlangsung dalam forum tersebut, untuk mengetahui bagaima pola diskusi yang berlangsung dalam forum online. Pola diskusi online yang berlangsung, dapat dilihat dari bagaimana dosen memberi topik diskusi, dan bagaimana aktifitas dosen dan mahasiswa selama diskusi berlangsung. Kedua aktifitas tersebut dapat dianalisis dari transkrip rekaman diskusi online berlangsung yang tersimpan dalam komputer server.
Hasil analisis terhadap transkrip diskusi online pada pembelajaran aplikasi komputer, ditemukan tiga pola jenis diskusi online yaitu: 1) diskusi pola A , yaitu diskusi dengan penentuan topik tertutup, 2) diskusi pola B, diskusi dengan topik semi terbuka, dan 3) diskusi pola C, diskusi dengan topik terbuka.
Diskusi pola A diawali dengan dosen memberi topik utama, dan sub topik diskusi yang harus didiskusikan oleh mahasiswa. Dosen memantau jalannya diskusi, dan sekali-kali masuk dalam forum diskusi untuk meluruskan atau memberi penguatan terhadap pernyataan-pernyataan yang muncul selama diskusi berlangsung, bahkan memberikan referensi tambahan untuk dibaca mahasiswa. Diskusi pola A dapat digambarkan seperti pada Gambar 1 di bawah ini:

Gambar 1 Alur Diskusi Pola A


Alur diskusi pola B, diawali dengan dosen menentukan topik utama yang harus dibahas oleh mahasiswa, dosen tidak memberi penekanan pada sub topik tertentu yang harus dibahas oleh mahasiswa. Mahasiswa diberi kebebasan untuk menentukan sub topik apa yang akan dibahas sesuai dengan topik utama yang telah ditentukan oleh dosen. Pola diskusi B dapat digambarkan sebagai berikut:

Gambar 4. Alur Diskusi Pola B


Berbeda dengan diskusi pola A dan B di atas, dimana dosen masih memegang peran dan terlibat dalam forum diskusi online, pada diskusi pola C, dosen benar-benar melepaskan forum diskusi pada mahasiswa, dosen hanya memantau jalannya diskusi saja, dan dosen tidak terlibat aktif untuk masuk pada forum diskusi tersebut. Penentuan topik utama dan sub topik diskusi, semuanya diserahkan pada mahasiswa. Diskusi pola C ini dapat digambarkan sebagai berikut ini:

Gambar 4.12 : Alur diskusi pola C


Terdapat empat topik diskusi yang diberikan dosen selama pembelajaran online berlangsung, yaitu tentang: 1) Aplikasi Komputer , 2) Program Pengolah Kata, 3) Program pengolah angka, dan 4) Program pengembangan presentasi. Dari keempat topik tersebut, yang masuk dalam kategori diskusi model A adalah topik 1, kategori model B adalah topik 2 dan 3, serta yang masuk dalam kategori model c adalah topik 4.
Hasil wawancara peneliti dengan mahasiswa yang terlibat dalam diskusi online, menghasilkan beberapa temuan berikut ini:
  1. Mahasiswa merasa senang dengan diskusi online, karena semuanya terekam dengan baik, sehingga bisa dibaca berualang-ulang atau di print out oleh mahasiswa.
  2. Mahasiswa lebih menyukai jika materi yang diposting dalam diskusi online disertai dengan alamat link terhadap situs yang menjadi sumber tulisan.
  3. Mahasiswa lebih suka menanggapi tulisan mahasiswa, daripada tulisan dosen. Jika ada mahasiswa yang menuliskan sesuatu, mahasiswa yang lain cenderung untuk mencari bahan yang lain, yang lebih baik
  4. Mahasiswa merasa sangat senang, jika tulisannya banyak ditanggapi oleh mahasiswa maupun dosen.
  5. Mahasiswa merasa tidak ada hambatan psikologis saat menulis pendapat atau pertanyaannya, tidak dihantui rasa malu seperti pada kelas tatap muka
  6. Mahasiswa lebih menyukai forum diskusi terbuka (pola A) dari pada forum diskusi pola yang lain, karena mahasiswa merasa ada pedoman tentang materi yang harus didiskusikan dari dosen.
  7. Efek samping yang dirasakan mahasiswa adalah kemampuan penelusuran bahan ajar di internet, sehingga dapat diterapkan untuk matakuliah-matakuliah yang lain.
Tingkat interaksi mahasiswa dalam diskusi pada ketiga jenis pola tersebut, disajikan pada tabel dibawah ini:

Pola diskusi

Jumlah Sub Topik

Jumlah Interaksi

Pola A

5

50

Pola B

4

20

Pola C

7

42


Beradasarkan tabel tersebut, tingkat interaksi paling tinggi terdapat pada pola diskusi A, yaitu pola diskusi jenis tertutup, dengan frekwensi interaksi yang terjadi sebanyak 50 kali interaksi. Interaksi yang dimaksud dalam hal ini adalah perrtanyaan atau jawaban yang ditulis oleh mahasiswa sesuai dengan topik diskusi. Tingkat interaksi berikutnya adalah pada diskusi pola C, yaitu pada pola diskusi semi terbuka, dengan frekwensi tingkat interaksi sebanyak 42 kali. Pada pola diskusi A dan C tersebut, hampir semua mahasiswa terlibat dalam diskusi, walaupun rata-rata tiap mahasiswa hanya menyumbang satu kali interaksi dalam forum diskusi. Tingkat interaksi yang paling rendah adalah pada diskusi pola B, yaitu pada diskusi semi terbuka, dengan frekwensi tingkat interaksi sebanyak 20 kali. Pada pola ini, tidak semua mahasiswa terlibat aktif dalam forum diskusi, hanya sebagian kecil mahasiswa yang terlibat.
Daftar Rujukan

  • Anderson, T. 2003. Getting the might right again : Un update theoriretical rationale for interaction. The International Review of Research in Open and Distance Learning, 4(2)
  • Anderson, T., & Fathi. 2004. Theory and Practice of Online Learning. Canada. Athabasca University.
  • Charles, R. Graham. 2006. The Handbook of Blended Learning: Global, perspectives, local design.San Fransisco. P.Feiffer.
  • Duffi, Thomas M. 2004. Learner-Centered Theory and Practice in Distance Education : Case From Higher Education. London: LEA Publisher
  • Dicks, Bella. 2005. Qualitative Research and Hypermedia: Ethnografi for digital age. London: Sage Publication Ltd.
  • Gayle, V. 2006. Web Based Learning: : Design, Implementation, and Evaluation Colombo, Ohio: Person Merril Printice Hall.
  • Holmes, Bryn & Gardner, John. 2006. E-Learning, concepst and Practice. London: Sage Publication Ltd.
  • Kozalka, T.A., & Ganesan. 2004. Designing Online Course : A Taxonomy to Guide Strategic Use of Future Available in Course Management System (CMS) in Distance Education. Distance Education, vol 25(2): 243-256
  • Magoulas, George D. 2006. Advances in Web-Based Education: Personalized Learning environments. United States of America: Infosci.
  • Robert, S. Thimothy. 2004. Online Collaborative Learning: Theory and Practice. London: IDEA Group Publisher.
  • Rose, David H & Meyer, Anne. 2002. Teaching Every Student in Digital Age. United State Of America: ASCD (Association for Supervition and Curriculum Development).
  • Rovai, A.P., & Bamum, K.T. 2003. On-line course effectiveness: An analysis of student interaction and perceptions of learning. Journal of Distance Education, Vol.18(1), pp 87-103
  • Slykhuis, David., Park, John C. 2006. The Efficacy of Online MBL Activities: Journal of Inteactive Online Learning. Vol.5(1) ), pp 14-31.

*) Dosen Jurusan Kimia Universitas Negeri Malang

Posted 06 Aug 2011 02:33 PM by admin in Abstrak Penelitian


Download Attachment :
Makalah Isbd.doc
Kel 8 Manajemen Humas.doc
Ringkasan Harga Cd Motivasi_oktober.pdf
Scholarships2012.xls
Lkti Juara 3.doc

Recent Post

  • Hakikat Dan Perkembangan
    Hakikat Dan Perkembangan Motorik Anak Usia Dini - Motorik adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan gerakan-gerakan tubuh. Secara ...
  • Bagaimana Anak Usia
    Bagaimana Anak Usia Dini Belajar - Belajar dapat didefinisikan sebagai perubahan tingkah laku yang terjadi akibat ...
  • Jenis-jenis Asesmen Autentik
    Jenis-jenis Asesmen Autentik - Dalam rangka melaksanakan asesmen autentik yang baik, guru harus memahami ...
  • Asesmen Autentik dan
    Asesmen Autentik dan Belajar Autentik - Asesmen Autentik menicayakan proses belajar yang Autentik pula. Menurut Ormiston ...
  • Asesmen Autentik dan
    Asesmen Autentik dan Tuntutan Kurikulum 2013 - Asesmen autentik memiliki relevansi kuat terhadap pendekatan ilmiah dalam pembelajaran ...
  • Definsi dan Makna
    Definsi dan Makna Asesmen Autentik - Asesmen autentik adalah pengukuran yang bermakna secara signifikan atas hasil ...
  • Landasan Kurikulum 2013
    Landasan Kurikulum 2013 - Kurikulum 2013 dikembangkan berdasarkan ketentuan yuridis yang mewajibkan adanya pengembangan ...
  • Perkembangan Kognitif dan
    Perkembangan Kognitif dan Kemampuan Calistung (Baca-Tulis-Hitung) - NAEYC (National Association for the Education of Young Children) memberikan ...
  • Tahap Perkembangan Kognitif
    Tahap Perkembangan Kognitif anak usia dini (lahir-8 tahun) menurut Piaget - Tahap Sensorimotor (lahir-18 bulan) Pada tahap ini, bayi hanya bergantung ...
  • Tahapan kognitif Anak
    Tahapan kognitif Anak - Kognisi adalah proses dan produk yang terjadi dalam otak sehingga ...
  • Model Pembelajaran Reggio
    Model Pembelajaran Reggio Emilia - Model pembelajaran Reggio Emilia merupakan contoh model ...
  • Model Pembelajaran Montessori
    Model Pembelajaran Montessori - Model pembelajaran Montessori mengacu pada pembelajaran yang dikembangkan Maria Montessori, ...
  • Model pembelajaran Bermain
    Model pembelajaran Bermain Kreatif - Model pembelajaran bermain kreatif mulai dikembangkan pada tahun 1985 di ...
  • Model Pembelajaran High/scope
    Model Pembelajaran High/scope - Pendekatan high scope pada awalnya dikembangkan untuk anak anak luar ...
  • Hakikat Permainan Teka
    Hakikat Permainan Teka Teki - Pada hakikatnya permainan adalah suatu kegiatan yang dilaksanakan oleh individu ...




Checkpagerank.net