RSS

..: Teknologi Pendidikan Universitas Negeri Surabaya :..

Teknik Pengumpulan Dan Analisis Data

“Kalau alat pengambil datanya cukup reliabel dan valid, maka datanya juga akan cukup reliabel dan valid. Namun masih ada satu hal lagi yang perlu dipertimbangkan, yaitu kualifikasi si pengambil data” (Suryabrata, Sumadi, 1983)
Kadangkala kita jumpai di lapangan, datanya kurang reliabel dan valid disebabkan si peneliti kurang kualified dalam bidang penelitian yang ditekuninya (Gay, L.R., 1987). Beberapa penelitian mensyaratkan akan kualitas penngumpul datanya, misalnya dalam penelitian psikologi sipeneliti harus di test terlebih dahulu tentang pengetahuan psikologinya. Contoh lain, di dalam penelitian geografi diharapkan pengumpul datanya memahami kaidah “reciprocal relationship between man and his environment”, atau setidak-tidaknya memahami tentang “natural elements” dan “humam elements”.


Dalam penelitian pendidikan, lazim ditemui pengumpulan data melalui tes. Adapun yang dimaksud dengan test ialah:
“Test are valuable measuring instruments for educational research. A test is a set of stimuli presented to an individual in order to elicit responses om the basis of which a numerical score can be assigned”. (Ary, Donald, 1985)
Selanjutnya dari batasan Donald Ary tertera di atas, menunjukkan bahwa test merupakan bagian penting dalam penelitian pendidikan. Di samping itu pula,test merupakan instrumen prinsip guna mengukur “human performance”, sehingga sering dikatakan sebagai pengukur paling prinsip “behavior” dari sampel (Moore, Gary W., 1983).
Pada kenyataannya kita temui tes terstandar dan tes non-terstandar. Adapun yang dimaksud dengan tes terstandar ialah:
A standardized test is one that has a consistenctand uniform procedure for administering, scoring, and interpreting the subject's behavior” (Moore, Gary W, 1983).
Dengan demikian, tekanan dari tes terstandar apabila kon sisten dan memiliki bentuk yang seragam dalam hal skor, peng administrasiannya, serta administrasi terhadap tingkah laku subyek penelitian.
Sebaliknya, dikatakan sebagai tes tidak terstandar apabila: “....... have not established a consistent procedure not gone through a construction process to minimize error” (Moore, Gary W, 1983).
Dengan demikian jelas kiranya, dikatakan sebagai tes tidak terstandar apabila 1) prosedur penyusunannya tidak konsisten, 2) menyimpang dari kelaziman proses konstruksi test, dan 3) akibatnya sering kita jumpai berbagai penyimpangan.
Tes yang non-standar tidak memungkinkan untuk mengevaluasi, atau diterapkan dalam kajian replikasi pada umumnya (Gay,L.R., 1987).

  1. Proses Penyusunan Tes Terstandar
    Untuk menyusun tes standar melalui proses yang cukup panjang, diawali dari penyusunan perencanaan tes (test plan; Borg, Walter R, 1985). Perencanaan tes meliputi tujuan tes, skor item, skor format (misalnya untuk “multiple-choice test” atau kah untuk “essay”), perhitungan populasi target, dan ber bagai informasi yang lain. Secara umum, perencanaan tes mulai dari tujuan (objectives) ke hal-hal yang specifik dari terapan tes.
    Dasar penyusunan tes dari konsep varia-bel hipothesis suatu penelitian, kemudian dijabarkan ke dalam tes (Borg, Walter R., 1985). Sesungguhnya hal yang penting diperhatikan dalam penyusunan tes adalah reliabilitas dan validitas tes.
    Adapun yang dimaksud dengan validitas adalah adalah konsistensi tes. Maknanya:
    “Regardless of what concept a test purports to measure, does the test measure it consistenly” (Moore, Gary W., 1983)
    Konsisten, dalam hal ini yang dimaksud: 1) konsiten se- waktu-waltu tes dilakukan, 2) konsisten dari item yang satu dengan yang lain, atau pun isi keseluruhannya, dan 3) konsis- ten dalam hal pen-skor-an walau menyangkut berbagai subyek penelitian (Gay, L.R., 1985).
    Validitas tes, mungkin merupakan indikasi yang paling sulit untuk mengukur kualitas tes. Garry W. Moore (1983) mencoba menjelaskan validitas tes sebagai:
    Validity attempts to determine whether a test measures what it says it measures”atau dengan kata lain, validitas tes “mencoba mengukur adakahtes tersebut telah dapat mengukur apa yang seharusnya diukur”.
  2. Instrumen Non-Tes
    Sering pula kita temui adanya instrumen penelitian non- tes, umumnya dilakukan di luar penelitian pendidikan. Namun, dengan berkembangnya penerapan berbagai tipologi penelitian kedalam penelitian pendidikan (survai, “historical research”, “evaluation research”, “operational research”, dsbnya), maka pada waktu akhir-akhir ini berkembang pula instrumen non-tes di bidang penelitian pendidikan (Gay, L.R, 1987).
    Instrumen non-tes yang penulis maksud:
    1. questionnaires (structured or instructured, self-admnistered or through interviews)
    2. observations and ratings
    3. organizational records and files
    4. available goverment statistics, etc.
      (Rutman, Leonard, 1984)
    1. mengindentifikasikan dimensi-dimensi dalam bentuk atribut suatu konsep dengan “se exhaustive” mungkin.
    2. mengembangkan variasi di masing-masing dimensi
    3. tidak menyangkutkan suatu dimensi terhadap konstruk yang telah mapan, misalnya: menanyakan konsep peperangan terhadap umat christiani yang berdoktrin “peace on Earth”, dan sebagainya (Rutman, Leonard, 1984)
    1. Kuesioner terbuka atau tidak tersusun (open-ended/unstructure question), dan
    2. Kuesioner tertutup atau tersusun (closed ended/structure question)
    Karena berbagai kendala yang ada khususnya kendala waktu, ma- ka di bawah ini hendak penulis paparkan salah sebuah instru- men non-tes yang sangat sering diterapkan dalam penelitian pendidikan, yakni kuesioner.
    Di dalam penelitian survai, historical, evaluation, ope- rational, dsbnya, khususnya survai konsep ataupun konstruk variabelnya haruslah dijabarkan kedalam pertanyaan-pertanyaan dalam kuesioner (Gay,L.R., 1987). Hal tersebut guna memungkin kan pengumpulan data empiris yang relevan bagi suatu analisis. Konsep mau pun konstruk sebagai “symbolic representation of phenomena” atau “codifications of experience and observations” harus dioperasionalisasikan, sebelum dijabarkan dalam bentuk instrumen (Wilkers, F.M., 1987). Operasionalisasi merupakan suatu proses dimana seorang peneliti mengindentikkan (specifies) observasi empiris. Dapat merupakan indikator-indikator suatu atribut yang terdapat dalam suatu konsep (Smith, Mary Lee, Cs., 1987).
    Pada umumnya, suatu konsep merupakan “ordinal variable/ variables” yang terdiri atas nilai-nilai sepanjang dimensi (bagian dari ungkapan konsep/konstruk). Misalnya operasio- nalisasi dari “religiousity” menyangkut spesifikasi “empiri- cal measurements” yang akan menunjukkan apakah seseorang “highly religious”, “moderately religious”, ataukah “unreligious”, dan sebagainya.
    Adakalanya suatu konsep terdiri atas beberapa dimensi, sehingga operasionalisasinya berupa suatu “composite index”. Misalnya tentang “tingkat sosial”, sering diukur atas bebe- rapa dimensi, misalnya income percapita, “occupational prestige”, “traditional family status”, jenis kendaraan, dan sebagainya. Dengan demikian, apabila peneliti menanyakan se- rangkaian pertanyaan berkaitan dengan dimensi-dimensi di atas dan mengkombinasikannya dalam indeks tingkat sosial, atau di- katakan telah menciptakan “ukuran tingkat sosial”.
    Tetapi sesungguhnya yang terjadi, Mary Lee Smith (1987) menyatakan: “... it is senseless to ask whether he has really measured social stratum in any ultimately valid sense, since the concept exists only in our minds”.
    Karena konsep di atas hanya merupakan “ad hoc summaries of experience and observations”, konsep tersebut tidak memi- liki “real ultimate meening”. Itulah sebabnya seorang peneli- ti tidak mungkin mengukur tingkatan yang “lebih berguna”, ataupun yang “kurang berguna”.
    Di dalam proses operasionalisasi di atas, kuesioner haruslah:
    Langkah berikutnya, setelah dioperasionalisasikan dalam dimensi dan indikator haruslah dijabarkan dalam bentuk ku- esioner (Smith, Mary L., 1987). Pada hakekatnya terdapat dua jenis kusioner, yakni:
  3. Analisis Data
    Once of the research data have been collected, the researcher first analyzes the result, then carefully interprets the findings, and finally writes the report of the study” (Ary, Donal Cs., 1985)Dari uraian Donald Ary di atas, jelas tertera bahwa tin- dakan peneliti setelah data terkumpul adalah menganalisisnya. Data yang valid dan reliabel didapat dari pengumpulan data yang valid dan reliabel pula. Oleh sebab itu data yang kurang valid dan reliabel, serta kurang lengkap hendaknya di buang saja (Suryabrata, Sumadi, 1983).Untuk analisis data yang baik selayaknya diperhatikan pula: 1) jenis skala datanya, dan 2) skema hubungan antar varia belnya (Sharp, Vicki F, 1979). Apabila penelitian yang dilakukan kuantitatif, hasil analisis statistiknya akhir akan berupa hubungan yang tidak signifikan, dan hubungan yang signifikan (Ary, Donald Cs,1985).Apabila hasil analisis menunjukkan tidak signifikan, di dalam interpratsi hasil analisis perlu dicari sumber tidak terbuktinya hipothesis, antara lain dalam hal: 1) landasan teori yang diterapkan, 2) representatif dan tidaknya sampel, 3) valid dan reliabel tidaknya instrumen, 4) kurang tepatnya rencana penelitian, 5) formula analisisnya, dan 6) ada tidak- nya pengaruh eksternal variabel (Suryabrata, Sumadi, 1983).

Daftar Kepustakaan


  • Ary, Donald, Cs., 1985. Intrpduction to Research in Education. New York: Holt, Rinehart and Company.
  • Borg, Walter R., 1985. Educational Research. An Inytoduction. New York: Longman.
  • Gay, L.R., 1987. Educational Research. Competencies for Analysis & Application. Columbus: A Bell & Com- pany.
  • Kidder, Louise H., 1986. Research Methods in Social Relations. New York: Holt, Rinehart and Winston.
  • Krathwohl, David R, 1985. Social and Behavioral Science Research. San Francisco: Jessey-Bass Publisher.
  • Moore, Gary W., 1983. Developing and Evaluating Educational Research. Boston: Little, Brown and Company.
  • Rutman, Leonard, 1984. Evaluation Research Methods: A Basic Guide. New Delhi: Sage Publications.
  • Suryabrata, Sumadi, 1983. Metodologi Penelitian. Jakarta: Cv Rajawali.
  • Wilkers, F.M., 1987. Elements of Operational Research. Toronto: McGraw-Hill Book Company (UK) Limited.
  • Williamson, John B. 1983. The Research Craft. An Introduc- tion to Social Research Methods. Toronto: Little, Brown and Company.


* Guru Besar Universitas Negeri Malang


Posted 07 Aug 2011 03:19 AM by admin in Penelitian Pendidikan


Download Attachment :
Jawa4.doc
Penggunaan Integral Tentu Pertemuan 3.pdf
Bahasa Indonesia 4.pdf
The Effectiveness Of Mobile Technology In A University E Learning Environment.pdf
Sap Matematika Bisnis8.doc

Recent Post

  • Prinsip pendidikan dan
    Prinsip pendidikan dan pengajaran peserta didik autis - AsesmenAsesmen adalah proses yang sitematis dalam mengumpulkan data berfungsi untuk ...
  • Contoh Asesmen Perkembangan
    Contoh Asesmen Perkembangan Peserta Didik Autis - Aspek Sosial Apakah anak dapat diajak dalam kegiatan menempel ...
  • Hakikat Dan Perkembangan
    Hakikat Dan Perkembangan Motorik Anak Usia Dini - Motorik adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan gerakan-gerakan tubuh. Secara ...
  • Bagaimana Anak Usia
    Bagaimana Anak Usia Dini Belajar - Belajar dapat didefinisikan sebagai perubahan tingkah laku yang terjadi akibat ...
  • Jenis-jenis Asesmen Autentik
    Jenis-jenis Asesmen Autentik - Dalam rangka melaksanakan asesmen autentik yang baik, guru harus memahami ...
  • Asesmen Autentik dan
    Asesmen Autentik dan Belajar Autentik - Asesmen Autentik menicayakan proses belajar yang Autentik pula. Menurut Ormiston ...
  • Asesmen Autentik dan
    Asesmen Autentik dan Tuntutan Kurikulum 2013 - Asesmen autentik memiliki relevansi kuat terhadap pendekatan ilmiah dalam pembelajaran ...
  • Definsi dan Makna
    Definsi dan Makna Asesmen Autentik - Asesmen autentik adalah pengukuran yang bermakna secara signifikan atas hasil ...
  • Landasan Kurikulum 2013
    Landasan Kurikulum 2013 - Kurikulum 2013 dikembangkan berdasarkan ketentuan yuridis yang mewajibkan adanya pengembangan ...
  • Perkembangan Kognitif dan
    Perkembangan Kognitif dan Kemampuan Calistung (Baca-Tulis-Hitung) - NAEYC (National Association for the Education of Young Children) memberikan ...
  • Tahap Perkembangan Kognitif
    Tahap Perkembangan Kognitif anak usia dini (lahir-8 tahun) menurut Piaget - Tahap Sensorimotor (lahir-18 bulan) Pada tahap ini, bayi hanya bergantung ...
  • Tahapan kognitif Anak
    Tahapan kognitif Anak - Kognisi adalah proses dan produk yang terjadi dalam otak sehingga ...
  • Model Pembelajaran Reggio
    Model Pembelajaran Reggio Emilia - Model pembelajaran Reggio Emilia merupakan contoh model ...
  • Model Pembelajaran Montessori
    Model Pembelajaran Montessori - Model pembelajaran Montessori mengacu pada pembelajaran yang dikembangkan Maria Montessori, ...
  • Model pembelajaran Bermain
    Model pembelajaran Bermain Kreatif - Model pembelajaran bermain kreatif mulai dikembangkan pada tahun 1985 di ...




Checkpagerank.net