RSS

..: Teknologi Pendidikan Universitas Negeri Surabaya :..

Temuan Penelitian tentang Teori Elaborasi

Prof. Dr. I Nyoman Sudana Degeng, M.PdPada bagian ini akan dikemukakan temuan-temuan penelitian yang berkaitan dengan teori/model elaborasi sebagai cara untuk mengorganisasi isi pembelajaran. Sejauh ini, sudah ada beberapa penelitian yang dimaksudkan untuk menguji keefektifan teori/model ini. Penelitian-penelitian itu dilaksanakan oleh Hanclosky (1986), Degeng (1988, 1994a, 1994b), Degeng dan Sukarnyana (1994), Wedman dan Smith (1989), Lusiana (1992), dan Anitah 1996.
Penelitian-penelitian yang dimaksudkan hanya menguji suatu komponen strategi juga dikemukakan di sini. Yang termasuk dalam kelompok ini adalah penelitian untuk menguji kesahihan pemberian komponen strategi rangkuman, pemberitahuan tujuan belajar sebelum pembelajaran dimulai, prates yang diberikan sebelum pembelajaran, advance organizer, epitome, analogi, pensistesis, dan mnemonik. Semua komponen strategi ini, kecuali pensintesis dan rangkuman, dapat dikelompokkan ke dalam komponen strategi awal yang biasanya ditampilkan pada tahap awal pembelajaran. Rangkuman, yang berfungsi untuk melakukan tinjauan ulang tentang isi yang sudah dipelajari, dan pensintesis, yang berfungsi untuk menunjukkan kaitan antar isi yang sudah dipelajari, biasanya ditampilkan pada tahap akhir pembelajaran. Pengetahuan mnemonik dan analogi, di samping dapat ditampilkan sebagai strategi awal, juga dapat ditampilkan selama pembelajaran berlangsung. Temuan-temuan penelitian mengenai variabel-variabel ini dikemukakan berikut ini.

Temuan Penelitian tentang Teori Elaborasi
Sebagai suatu model yang berusaha mengintegrasikan strategi-strategi yang telah teruji sahih, seperti telah didiskusikan sebelumnya, model elaborasi memerlukan bukti empirik untuk memperkuat landasan teoritiknya. Kajian tentang hal ini diuraikan pada bagian berikut.
Sampai kini, sudah tersedia sejumlah temuan penelitian tentang kesahihan teori elaborasi sebagai strategi untuk mengorgani-sasi isi pembelajaran. Hanclosky (1986) adalah orang pertama yang melakukan penelitian mengenai strategi ini dengan membandingkan . sumbangan teori elaborasi, advance organizer, dan analisis tugas dalam belajar konsep dan prinsip. Salah satu dari sejumlah hipotesis yang diuji adalah bahwa untuk belajar konsep dan prinsip teori elaborasi lebih unggul, jika dibandingkan dengan advance orga­nizer dan analisis tugas. Hasil seperti ini diramalkan terjadi dalam pasca-tes. Hasil yang serupa juga diramalkan terjadi dalam tes yang diadakan setelah lima minggu pasca-tes.
Hipotesis ini didukung oleh hasil penelitian uji coba, namun tidak demikian halnya oleh penelitian akhir. Penelitian akhir menemukan hasil yang bertentangan dengan penelitian uji coba. Untuk belajar konsep, kelompok yang mendapat perlakuan analisis tugas lebih unggul (p <0,05), jika dibandingkan dengan kelompok yang mendapat perlakuan advance organizer dan teori elaborasi. Namun demikian hasil ini hanya terjadi berdasarkan analisis pasca-tes, dan setelah 5 minggu pasca-tes perbedaan ini menjadi tidak signifikan. Hasil yang berlawanan terjadi dalam belajar prinsip. Kelompok yang mendapat perlakuan analisis tugas lebih unggul (p <0,05), jika dibandingkan dengan kelompok yang mendapat perlakuan advance organizer dan teori elaborasi, dalam tes yang dilaksanakan setelah 5 minggu pasca-tes. Dalam pasca-tes, untuk belajar prinsip, kelompok yang mendapat perlakuan analisis tugas lebih unggul terhadap kelompok yang mendapat perlakuan advance organizer.
Penelitian lain dilakukan oleh Degeng (1988). Dalam penelitiannya, Degeng membandingkan model pengorganisasian pembelajaran elaborasi dengan buku teks. Dalam hal ini, isi bukuteks diorganisasi kembali mengikuti rambu-rambu model elaborasi. Selanjutnya kedua model ini, organisasi isi berdasarkan bukuteks asli dan organisasi isi berdasarkan model elaborasi, dibandingkan pengaruhnya terhadap perolehan belajar informasi verbal, konsep, dan retensi. Ditemukan bahwa pengorganisasian pembelajaran dengan menggunakan model elaborasi secara signifikan lebih unggul dari pengorganisasian pembelajaran dengan menggunakan urutan bukuteks, baik untuk belajar informasi verbal maupun konsep. Lebih lanjut, juga ditemukan bahwa retensi terhadap perolehan belajar informasi verbal dan konsep ternyata lebih banyak dapat dipertahankan melalui pengorganisasian pembelajaran berdasarkan model elaborasi daripada urutan buku teks.
Degeng (1988) selanjutnya mendiskusikan mengapa teori elaborasi lebih unggul dari organisasi buku teks. Seperti telah dikemukakan dalam analisis landasan teoretik, bahwa model elaborasi menggunakan urutan elaboratif, yang pola dasarnya bergerak dari umum-ke-rinci. Komponen strategi ini berupaya untuk menyediakan ideational scaffolding (Ausubel, 1968) atau anchor­ing knowledge (Reigeluth dan Stein, 1983) bagi isi yang lebih rinci yang dipelajari kemudian. Ini dilakukan dengan menampilkan sturktur konseptual (epitome) pada awal keseluruhan peristiwa pembelajaran. Dengan menggunakan konsepsi memory theorists (Quillian, 1968) epotome dapat berfungsi sebagai skemata bagi asimilasi konsep-konsep atau informasi baru. Di sinilah sebenarnya letak kekuatan utama model elaborasi. Penyajian epitome dapat bertindak sebagai unit konseptual yang serupa dengan skemata.
Untuk belajar informasi verbal, seperti: fakta-fakta, nama-nama, epitome dapat berfungsi sebagai konteks bagi informasi-informasi yang lebih rinci. Hal ini juga sejalan dengan dengan konsepsi Ausubel (1968) bahwa untuk belajar informasi baru diperlukan adanya struktur kognitif. Dalam model elaborasi, epitome berperan sebagai skemata bagi informasi-informasi yang lebih rinci. Ini juga yang mungkin menyebabkan mengapa model elaborasi lebih unggul dari pengorganisasian dengan buku teks.
Penampilan pensintesis secara bertahap dalam model elaborasi, secara khusus dimaksudkan untuk mengaitkan konsep- konsep yang dipelajari, dengan cara menunjukkan konteks suatu konsep dengan konsep lain yang lebih luas. Dengan cara seperti ini, pemahaman suatu konsep menjadi lebih dalam karena semua konsep dipelajari dalam konteksnya dengan konsep lain yang terkait. Bila kaitan-kaitan antar konsep seperti ini tidak sengaja dirancang dalam pembelajaran, maka siswa membutuhkan waktu khusus untuk melakukannya sendiri sehingga pembelajaran menjadi tidak efisien. Lebih jauh dari itu, mungkin tidak semua siswa akan mampu melakukan kaitan-kaitan seperti itu. Dengan menyajikan pensintesis, masalah-masalah seperti ini dapat diperkecil, bahkan mungkin dapat ditiadakan.
Penyajian epitome pada awal pembelajaran, dan pensintesis pada akhir pembelajaran, dan disertai lagi dengan penyajian rangkuman secara bertahap amat memperkokoh kehadiran model elaborasi sebagai cara untuk mengorganisasi isi pembelajaran. Namun demikian, sejauh ini, strategi ini hanya tepat mempreskripsikan pengorganisasian ranah kognitif.
Penelitian berikutnya, dilaksanakan oleh Degeng dan Sukarnyana (1992; 1994), menbandingkan keefektifan model elaborasi ala Reigeluth, yang disebut sebagai model elaborasi bertahap (MEB) dan model elaborasi tuntas (MET) untuk meningkatkan perolehan belajar dan retensi. Penelitian ini menyimpulkan bahwa model elaborasi bertahap kembali teruji lebih efektif dibandingkan dengan model elaborasi tuntas, baik untuk meningkatkan perolehan belajar maupun untuk mempertahankan retensi. Keunggulan dari model elaborasi bertahap tidak berinteraksi dengan variabel gaya kognitif dan motivasi berprestasi mahasiswa.
Penelitian Degeng berikutnya (1994a dan 1994b) kembali menemukan bahwa model elaborasi sangat efektif untuk meningkat­kan perolehan belajar. Degeng (I994a) menyimpulkan bahwa teksajar yang ditata mengikuti model elaborasi dapat meningkatkan perolehan belajar, baik fakta maupun konsep. Penelitian ini juga tidak menemukan adanya interaksi antara model elaborasi dengan strategi belajar yang digunakan oleh mahasiswa untuk mempelajari teks tersebut. Ini berarti bahwa model elaborasi tetap lebih efektif terlepas dari bagaimanapun strategi yang dipakai oleh mahasiswa untuk belajar. Untuk koteks pembelajaran yang menggunakan modul (Degeng, 1994b) juga ditemukan hasil yang konsisten. Model elaborasi bertahap lebih efektif untuk meningkatkan perolehan belajar jika dibandingkan dengan model elaborasi langsung.
Penelitian lainnya mengenai model elaborasi, tercatat dilakukan oleh Wedman dan Smith (1989). Tujuan penelitian ini adalah menguji pengaruh pembelajaran yang diorganisasi dengan hirarkhi belajar dan model elaborasi pada hasil belajar mengingat dan menerapkan prinsip. Enam puluh sembilan mahasiswa yang mengikuti matakuliah produksi media pendidikan mempelajari satu dari dua versi teks pembelajaran yang berkaitan dengan prinsip-prinsip fotografi. Satu versi diorganisasi dengan menggunakan preskripsi hirarkhi belajar, dan yang kedua menggunakan preskripsi model elaborasi. Ditemukan bahwa kedua kelompok tidak memperlihatkan perbedaan yang signifikan secara statistik. Dikemukakan juga oleh peneliti bahwa teks untuk versi hirarkhi belajar lebih pendek dan membutuhkan waktu lebih singkat untuk menyelesaikannya. Jadi, perlu dipertanyakan tingkat efisiensi pembelajaran yang diorganisasi dengan presksripsi model elaborasi.
Lusiana (1992) dengan menggunakan konteks pembelajaran Bidang Studi Keperawatan, dan Anitah (1996) dengan menggunakan konteks pembelajaran Teori-Musik Dasar, kembali menyimpulkan bahwa model elaborasi ala Reigeluth (elaborasi bertahap) lebih efektif jika dibandingkan dengan model elaborasi tuntas.Dari temuan-temuan di atas, meskipun tidak semuanya menunjukkan hasil yang konsisten, cenderung dapat disimpulkan bahwa model elaborasi efektif digunakan untuk men^organisasi isi pembelajaran. Ketidakkonsistenan temuan mungkin terjadi, di samping karena model elaborasi masih pada tahap pengembangan awal ketika diteliti, penelitian-penelitian tersebut memusatkan pada variabel yang berbeda. Hanclosky (1986) dan Wedman dan Smith (1989) menggunakan acuan model elaborasi yang baru dikembang-kan, yaitu tahun 1979, di mana ada beberapa komponen strategi yang belum diintegrasikan. Degeng (1988, 1994a, 1994b) menggunakan acuan Reigeluth dan Stein (1986). Pada acuan ini, pengembangan model elaborasi telah disertai dengan preskripsi yang lebih jelas mengenai setiap komponen strategi yang dilibatkannya. Acuan yang sama dengan Degeng juga dipakai oleh Lusiana dan JAnitah, namun dengan konteks yang berbeda.
Reigeluth (1987) telah mengembangkan model teoretik elaborasi ke dalam bentuk pembelajaran konkret. Akan lebih mendasar apabila penelitian-penelitian lanjutan mengenai model Elaborasi, diacukan pada cqntoh pengembangan yang telah dibuat I oleh pencetus model ini. Kini, sumber-sumber telah lebih banyak Itersedia. Penelitian lanjutan amat diharapkan agar model elaborasi benar-benar dapat dijadikan preskripsi bagaimana cara mengorganisasi pembelajaran tingkat makro.


Posted 11 Jul 2011 04:23 PM by admin in Prof. Dr. I Nyoman Sudana Degeng, M.Pd


Download Attachment :
26.pdf
27.pdf
311.pdf
34.pdf
47.pdf

Recent Post

  • Hakikat Dan Perkembangan
    Hakikat Dan Perkembangan Motorik Anak Usia Dini - Motorik adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan gerakan-gerakan tubuh. Secara ...
  • Bagaimana Anak Usia
    Bagaimana Anak Usia Dini Belajar - Belajar dapat didefinisikan sebagai perubahan tingkah laku yang terjadi akibat ...
  • Jenis-jenis Asesmen Autentik
    Jenis-jenis Asesmen Autentik - Dalam rangka melaksanakan asesmen autentik yang baik, guru harus memahami ...
  • Asesmen Autentik dan
    Asesmen Autentik dan Belajar Autentik - Asesmen Autentik menicayakan proses belajar yang Autentik pula. Menurut Ormiston ...
  • Asesmen Autentik dan
    Asesmen Autentik dan Tuntutan Kurikulum 2013 - Asesmen autentik memiliki relevansi kuat terhadap pendekatan ilmiah dalam pembelajaran ...
  • Definsi dan Makna
    Definsi dan Makna Asesmen Autentik - Asesmen autentik adalah pengukuran yang bermakna secara signifikan atas hasil ...
  • Landasan Kurikulum 2013
    Landasan Kurikulum 2013 - Kurikulum 2013 dikembangkan berdasarkan ketentuan yuridis yang mewajibkan adanya pengembangan ...
  • Perkembangan Kognitif dan
    Perkembangan Kognitif dan Kemampuan Calistung (Baca-Tulis-Hitung) - NAEYC (National Association for the Education of Young Children) memberikan ...
  • Tahap Perkembangan Kognitif
    Tahap Perkembangan Kognitif anak usia dini (lahir-8 tahun) menurut Piaget - Tahap Sensorimotor (lahir-18 bulan) Pada tahap ini, bayi hanya bergantung ...
  • Tahapan kognitif Anak
    Tahapan kognitif Anak - Kognisi adalah proses dan produk yang terjadi dalam otak sehingga ...
  • Model Pembelajaran Reggio
    Model Pembelajaran Reggio Emilia - Model pembelajaran Reggio Emilia merupakan contoh model ...
  • Model Pembelajaran Montessori
    Model Pembelajaran Montessori - Model pembelajaran Montessori mengacu pada pembelajaran yang dikembangkan Maria Montessori, ...
  • Model pembelajaran Bermain
    Model pembelajaran Bermain Kreatif - Model pembelajaran bermain kreatif mulai dikembangkan pada tahun 1985 di ...
  • Model Pembelajaran High/scope
    Model Pembelajaran High/scope - Pendekatan high scope pada awalnya dikembangkan untuk anak anak luar ...
  • Hakikat Permainan Teka
    Hakikat Permainan Teka Teki - Pada hakikatnya permainan adalah suatu kegiatan yang dilaksanakan oleh individu ...




Checkpagerank.net