RSS

..: Teknologi Pendidikan Universitas Negeri Surabaya :..

Urutan pembelajaran yang dapat dikembangkan dalam modul

Setiap model pembelajaran, masing-masing menerapkan berbagai kegiatan belajar. Keller (1963; Gagne, 1983) menyatakan bahwa unit pembelajaran terbagi menjadi beberapa seri. Warga belajar diarahkan untuk mengusai satu unit setelah itu barulah mereka beranjak ke unit berikutnya. Quiz atau latihan-latihan digunakan untuk menilai penguasaan materi. Warga belajar dapat mengerjakan latihan kapanpun sesuai kehendaknyanya sendiri karena itu perlu menggunakan instruksi yang dapat diikuti oleh pengguna modul. Keller (1963) selanjutnya menyatakan bahwa setelah quiz, pebelajar menerima secara langsung umpan balik yang dapat diperoleh dari tutor atau temannya sendiri. Pada umumnya modul sekarang ini sudah disediakan kunci jawaban sebagai umpan balik. Sehingga setiap pengguna dapat melakukan remedi sendiri (Keller, 1963; Gagne, 1983) demikian juga ahli pembelajaran lainnya seperti Morrison, dkk (2001) dan Dick, Carey, dan Carey (2001). Pada intinya variasi kegiatan belajar tersebut semuanya terkumpul dan terurut sebagaimana nine even of instruction (sembilan peristiwa pembelajaran) (Reigeluth, 1983) yang merupakan kontribusi dari Gagne dan Briggs (1979). Sembilan peristiwa belajar dimaksud dijelaskan berikut ini:
  1. Gain attention (mendapatkan perhatian)
    Kegiatan ini dilakukan untuk memperlancar kegiatan berikutnya (Degeng, 1989). Untuk mendapatkan perhatian, Punaji (2001) menjelaskan bahwa pebelajar perlu menerima dorongan-dorongan yang bersifat netral. Gagne (1987) menyatakan; “gaining attention through the use of stimulus change” rangsangan yang berbeda atau rangsangan mendadak (Degeng, 1989). Dalam desain teks, untuk meraih perhatian dengan rangsangan yang unik, menggunakan warna kontras seperti yang dinyatakan oleh Fleming dan Malcom (1981) demikian juga Heinich, dkk (2002) yaitu menggunakan tulisan dalam garis/kotak berwarna merah. Bahan pembelajaran multimedia sering menggunakan rangsangan visual dengan tulisan animasi bergerak disertai efek suara musik (rangsangan auditori).
    Modul pembelajaran dapat mengikuti cara-cara diatas tersebut untuk menarik perhatian warga belajar paket B. Menurut Kruse ( http://kruse_bio/html ), cara terbaik menarik perhatian pebelajar yaitu dengan; pertanyaan-pertanyaan yang memprovokasi atau fakta-fakta yang menarik pebelajar. Sedangkan Degeng (1989) menganjurkan dengan menggunakan kata-kata seperti; lihat atau perhatikan.
  2. Memberitahukan tujuan pembelajaran
    Dalam bahan pembelajaran tercetak, perlu menjelaskan tujuan pembelajaran sebelum pembahasa inti. Tujuan memberitahukan tujuan pembelajaran, diantaranya; Gagne (1981) menyatakan bahwa untuk mengenal bagian pembelajaran yang penting dan relevan, Prawiradilaga (2007) menyatakan agar pembelajaran lebih terarah. Sedangkan tujuan yang sebenarnya adalah memberikan informasi kepada pebelajar apa yang harus dicapai pada akhir pembelajaran Degeng (1989)
  3. Ransangan untuk mengingat materi sebelumnya
    Langkah ini memberikan rangsangan agar pebelajar dapat mengingatkan kembali materi sebelumnya termasuk prasyarat pembelajaran (Degeng, 1989). Kruse ( http://kruse_bio/html ) menyatakan, proses mental yang terjadi adalah retrieval and activation of short-term memory (mengingat kembali dan mengaktifkan memori jangka pendek). Learning prerequisite (Gagne, 1968) adalah keharusan memiliki pengetahuan awal dalam kontek tertentu sebelum pembelajaran diberikan. Learning prerequisite dinyatakan sebagai supporting content dan akan disajikan apabila sangat relevan dengan isi pembelajaran (Reigeluth, 1983). Supporting content merupakan keterampilan prasyarat yang mendukung isi pembelajaran. Prasyarat belajar menurut Degeng (1989) yaitu prasyarat utama yang harus dikuasai sebelum pembelajaran dan prasyarat pendukung yang dapat memudahkan pembelajaran tetapi tidak mutlak menyebabkan terjadinya pembelajaran.
  4. Penyajian isi/materi
    Bahan yang disajikan adalah stimulus material (Gagne, 1981). Degeng (1989) memaparkan beberapa contoh material perangsang yang ditentukan berdasarkan kapabilitas pembelajaranm Gagne; 1) dalam informasi verbal dapat berupa bahan tercetak, verbal, dan rekaman, 2)bahan perangsang keterampilan intelektual berupa objek dan simbol yang termasuk dalam konsep atau kaidah yang akan disajikan. 3) Untuk strategi kognitif, prosedur dari strategi dideskripsikan atau ditampilkan. 4) dalam keterampilan motorik, yang digunakan sebagai perangsang adalah situasi pada saat menampilkan keterampilan. Sedangkan 5) sikap menggunakan bahan perangsang berupa model prilaku manusia.
  5. Memberikan bimbingan pembelajaran
    Pemberian bimbingan menurut Gagne (1981) dilakukan sesuai dengan tingkat kompleksitas, kesulitan materi, dan pengetahuan atau kemampuan pebelajar. Dalam proses mental (Kruse, dalam http://kruse_bio/html ) pebelajar dapat membuat kode semantik dalam memori jangka panjang yang tentunya dapat membimbing pebelajar mengingat, mengambil kembali dan mengkaitkan dengan materi lain. Tujuan pemberian bimbingan ini adalah untuk membantu pebelajar memperoleh kapabilitas yang ditetapkan dalam tujuan (Degeng, 1989).
  6. Menampilkan unjuk kerja
    Menurut Kruse ( http://kruse_bio/html ) unjuk kerja ditampilkan sebagai respon terhadap pertanyaan-pertanyaan, berguna untuk mempertahankan dan verifikasi kode/sandi yang telah dibuat pebelajar untuk memori jangka panjang. Menampilkan unjuk kerja (dapat diamati) juga dapat meyakinkan bahwa pebelajar telah menguasai kapabilitas pembelajaran yang sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai (Degeng, 1989).
  7. Memberikan balikan
    Peristiwa pembelajaran dari 4 sampai 6 merupakan kegiatan penyajian materi (Prawiradilaga, 2007). Karena itu Prawiradilaga menyatakan; sewaktu penyajian, pebelajar diberikan kesempatan untuk merespon penyajian dengan menjalankan kegiatan yang mendukung pemahaman seperti kerja tim, bertanya, berdemonstrasi dan sebagainya seperti membuat singkatan (dikenal masyarakat) untuk materi. Setelah pebelajar merespon atau menampilkan unjuk kerja barulah segera diberikan balikan. Menurut Degeng (1989) diberikan balikan yang informatif ditambah bumbu-bumbu yang bermakna bukan seperti penyataan; ini salah atau ini perlu perbaikan karena tidak bermakna bagi pebelajar.
  8. Menilai unjuk kerja
    Kegiatan ini adalah menilai ketercapain tujuan pembelajaran, penguasaan materi atau menurut Degeng (1989) apakah pebelajar sudah mampu menampilkan unjuk kerja. Di dalam tujuan pembelajaran terdapat kapabilitas atau prilaku-prilaku tertentu, karena itu perlu menetapkan format penilaian yang tepat. Sebagai acuan penentuan format evaluasi ini dapat anda temukan dalam tipe item soal (tabel 2.2) yang dikemukakan oleh Dick, Carey, dan Carey (2001).
  9. Meningkatkan retensi dan alih belajar terhadap pekerjaan
    Pase ini sangat menentukan untuk menjadikan warga belajar terampil dalam dunia nyata. Karena itu menurut Degeng (1989) pase ini perlu dimasukkan dalam pembelajaran secara eksplisit. Sedangkan cara yang efektif menurut Kruse (http://kruse_bio/html ) adalah menyatakan tujuan pembelajaran yang fokus kepada unjuk kerja tertentu dan bagi perancang pembelajaran dapat menyatukan desain dan media yang dapat memfasilitasi pebelajar untuk meningkatkan retensi dan transfer ini. Sebagai petunjuk untuk menjalankan 9 (sembilan) peristiwa pembelajaran ini, berikut dipaparkan pernyataan untuk setiap pase peristiwa pembelajaran dan pernyataan-pernyataan ini dapat dijalankan untuk pembelajaran bahasa Inggris. Penyatan tersebut adalah; 1) pada pase I perlu menyapa pebelajar, misalnya hey you!, 2) pase II ; today we are going to…, 3) pase III; yesterday we learned how to (about), 4) pase IV; this is the demonstration of…, 5) pase V; this is a guide for performing…, 6) pase VI; now try it!, 7) pase VII; you need to…, 8) pase VIII; we are going to take a performance test, dan 9) Pase IX; let’s do it on the true jobs.
Komponen-komponen penting dalam modul pembelajaran
Dengan menetapkan tujuan pembelajaran maka arah pembelajaran akan jelas dan pembelajaran pun dapat berjalan efektif dan efisien. Untuk mencapai kriteria ini modul perlu dilengkapi dengan beberapa komponen-komponen penting sebagaimana dipaparkan oleh Morrison, Ross dan Kemp (2001), komponen-komponen ini pula yang membedakan modul dengan buku teks. Komponen tersebut diantaranya :
  1. Petunjuk pembelajaran yang harus dinyatakan dengan hati-hati.
    Pada prinsipnya, menetapkan petunjuk pembelajaran atau instruksi sama dengan saja dengan menetapkan petunjuk dalam instrumen tes. Petunjuk harus dideskripsikan dengan jelas terhadap apa yang harus dikerjakan dan bagaimana mengerjakannya (Dick, Carey, dan Carey, 2001). Pertimbangan utama yang digunakan dalam menetapkan instruksi adalah prilaku yang diharapkan dalam tujuan pembelajaran dan prosedur yang harus diikuti untuk mencapai tujuan pembelajaran tersebut.
  2. Deskripsi terhadap aktivitas dan latihan.
    Aktivitas pembelajaran dirancang extra hati-hati dan langsung mengarah ke pencapaian tujuan pembelajaran. Dalam menetapkan petunjuk terhadap berbagai aktivitas dan kegiatan latihan terkadang diberikan pilihan-pilihan sehingga pebelajar dapat memilih sendiri metode yang diinginkan (Morrison, Ross, dan Kemp, 2001). Misalnya, jika warga belajar mengalami kesulitan maka petunjuk yang diberikan dapat berupa; membaca rujukan, bertanya kepada tutor, betanya kepada teman dan sebagainya.
  3. Daftar sumber.
    Sebagaimana dipaparkan di atas, jika terjadi kesulitan maka warga belajar dapat diarahkan untuk membaca sumber atau rujukan yang berhubungan dengan materi. Dapat juga diarahkan membaca buku ke perpustakaan, membaca sumber-sumber dari media masa, menonton film dan sebagainya (Morrison, Ross, dan Kemp, 2001). Morrison, dkk (2001) juga menyarankan bahwa aktivitas dan sumber harus dipilih secara hati-hati dan tetap merujuk kearah pencapaian tujuan pembelajaran.
  4. Tes dan kunci jawaban
    Sebelum memasuki unit berikutnya, penguasaan terhadap materi harus diperiksa dengan tes, quiz atau latihan selanjutnya balikan segera diberikan. Dengan demikian tes perlu diberikan kunci jawaban (sebaiknya terpisah) agar warga belajar atau pengguna modul dapat memeriksa kemajuan belajarnya sendiri, dan menentukan titik kelemahan untuk keperluan remedi. Remedi dapat berjalan efektif karena langsung pada bagian yang memang perlu remedi.

Posted 15 Jul 2011 03:59 PM by admin in Pengembangan Modul Pembelajaran


Download Attachment :
Sni 03 1729 2000 Baja.pdf
Status Of Private Sec School.xls
Bab 10 Elektronika Daya.pdf
Canberralive How To Login1.ppt
Atl Docs 1509113.xls

Recent Post

  • Hakikat Dan Perkembangan
    Hakikat Dan Perkembangan Motorik Anak Usia Dini - Motorik adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan gerakan-gerakan tubuh. Secara ...
  • Bagaimana Anak Usia
    Bagaimana Anak Usia Dini Belajar - Belajar dapat didefinisikan sebagai perubahan tingkah laku yang terjadi akibat ...
  • Jenis-jenis Asesmen Autentik
    Jenis-jenis Asesmen Autentik - Dalam rangka melaksanakan asesmen autentik yang baik, guru harus memahami ...
  • Asesmen Autentik dan
    Asesmen Autentik dan Belajar Autentik - Asesmen Autentik menicayakan proses belajar yang Autentik pula. Menurut Ormiston ...
  • Asesmen Autentik dan
    Asesmen Autentik dan Tuntutan Kurikulum 2013 - Asesmen autentik memiliki relevansi kuat terhadap pendekatan ilmiah dalam pembelajaran ...
  • Definsi dan Makna
    Definsi dan Makna Asesmen Autentik - Asesmen autentik adalah pengukuran yang bermakna secara signifikan atas hasil ...
  • Landasan Kurikulum 2013
    Landasan Kurikulum 2013 - Kurikulum 2013 dikembangkan berdasarkan ketentuan yuridis yang mewajibkan adanya pengembangan ...
  • Perkembangan Kognitif dan
    Perkembangan Kognitif dan Kemampuan Calistung (Baca-Tulis-Hitung) - NAEYC (National Association for the Education of Young Children) memberikan ...
  • Tahap Perkembangan Kognitif
    Tahap Perkembangan Kognitif anak usia dini (lahir-8 tahun) menurut Piaget - Tahap Sensorimotor (lahir-18 bulan) Pada tahap ini, bayi hanya bergantung ...
  • Tahapan kognitif Anak
    Tahapan kognitif Anak - Kognisi adalah proses dan produk yang terjadi dalam otak sehingga ...
  • Model Pembelajaran Reggio
    Model Pembelajaran Reggio Emilia - Model pembelajaran Reggio Emilia merupakan contoh model ...
  • Model Pembelajaran Montessori
    Model Pembelajaran Montessori - Model pembelajaran Montessori mengacu pada pembelajaran yang dikembangkan Maria Montessori, ...
  • Model pembelajaran Bermain
    Model pembelajaran Bermain Kreatif - Model pembelajaran bermain kreatif mulai dikembangkan pada tahun 1985 di ...
  • Model Pembelajaran High/scope
    Model Pembelajaran High/scope - Pendekatan high scope pada awalnya dikembangkan untuk anak anak luar ...
  • Hakikat Permainan Teka
    Hakikat Permainan Teka Teki - Pada hakikatnya permainan adalah suatu kegiatan yang dilaksanakan oleh individu ...




Checkpagerank.net